Senin, 22 April 2019

Trik Jitu Sukses USBN Matematika

Assalamu'alaikum smart ladies, beratkah mendampingi anak jelang USBN? Matematika masih menjadi momok pada sang buah hati?
Berikut saya paparkan jurus ampuh agar anak mudah mengerjakan USBN Matematika selezat makan coklat.

Saya akan jelaskan trik ini dari sudut pandang guru.
Tentunya menjadi guru itu luar biasa. Anak-anak selalu menganggap guru sebagai malaikat tanpa cacat, selalu benar dimata mereka. Bahkan sebagian besar anak-anak lebih percaya kepada guru daripada orangtuanya sendiri.


Smart ladies sudah update kan bahwa USBN sekarang ada esay nya. Hal ini menambah  phobia pada diri anak didik kita. 

Trik agar anak-anak sukses USBN Matematika sebagai berikut:

đź’“Diawal kita menjadi guru matematika, jalin komunikasi dengan wali murid terkait perkembangan anak-anak di sekolah.

đź’“Setelah komunikasi terjalin dengan baik, mulai tanamkan kepada anak bahwa proses lebih penting dari sebuah hasil. Hasil bisa saja salah, tapi prosesnya dijamin benar asal kita faham. Oleh karena itu, biasakan pada anak didik untuk selalu menulis diketahui dan ditanya pada setiap soal matematika.


đź’“Adakan post test untuk mengukur kemampuan anak didik kita, nantinya hasil post test akan kita kelompokkan menjadi kelompok belajar yang menghawatirkan, sedang-sedang, atau yang ada di titik aman.

đź’“Tentukan beberapa anak untuk menjadi asisten kita, tentunya kita juga harus memakai metode belajar "teman sebaya"


đź’“Biasakan anak untuk mengerjakan soal, jangan ragu untuk memberi PR atau tugas. Dari tahun ke tahun, tipe soal untuk USBN sama saja. Semakin sering anak-anak berlatih, maka semakin terbiasa juga mereka menghadapi soal‐soal. Seperti pepatah "bisa karena biasa, maka biasakanlah"


đź’“Fokus pada kalimat "aku pasti bisa". Untuk membantu berhasilnya mewujudkan kalimat ini, tentu sebagai guru kita harus mengajak kerjasama walimurid agak anak-anak dijauhkan dari TV maupun HP saat menjelang USBN. Ketika memang anak-anak butuh hiburan, berikanlah saran kepada walimurid untuk mengajak anak-anak liburan di alam bebas, bukan dengan memberikan HP.


Ok smart ladies, itulah beberapa trik agar USBN berjalan lancar, dan in shaa Allah sukses dengan nilai maksimal.
Tentunya jangan lupa "ketuk pintu langitnya Allah" dengan berdoa serta meminta restu orang tua. Selamat mencoba.

Selasa, 16 Oktober 2018

Uang atau Bintang


Lagi-lagi aku diberi amanah untuk menjadi wali kelas 6. Tapi kali ini, ada yang menarik. Dikelasku ada seorang anak tuna rungu, namanya Abrisam. Aku tak begitu khawatir, karena aku memiliki shadaw teacher. Pak Wildan namanya.
Seperti biasa, aku paling suka dan paling fokus dengan nilai matematika anak-anak. Mungkin karena aku suka dengan matematika.
Diawal pembukaan belajar matematika, seperti biasa aku selalu bertanya.
“Siapa saja yang tidak suka dengan matematika di kelas ini? Tolong angkat tangan!”. Tanyaku.
Sontak mataku terbelalak, karena setelah tangan diangkat begitu banyak tangan bergentayangan. Benar saja, dari 32 siswaku ada 25 siswa yang tidak suka matematika. PR besar bagiku, karena aku harus mempersiapkan mereka menuju ujian.
Aku teringat dengan salah seorang motivator.
“Buat pelajaran kita salah satu pelajaran yang menyenangkan, agar siswa  membuka hati, membuka pikiran  (open minset bahasa kerennya) sehingga siswa kita akan merasa pelajaran kita sangatlah mudah”
“Maa syaa Allah, kenapa matematika tidak disukai?” tanyaku.
“Dari dulu remedi terus!”
“males bu!
“Matematika pelajaran sulit bu”
Dan masih banyak lagi teriakan mereka.
Otakku mulai melayang, harus kumulai dari mana untuk menjejeli mereka pelajaran kelas 6. Kemudian aku mulai membentuk mereka menjadi 6 kelompok secara acak. Kemudian masing-masing kelompok memilih nama kelompok beserta ketua kelompoknya. Masing-masing kelompok diminta untuk membawa kertas spectra, dimana kertas tersebut digunakan untuk menempel bintang bagi siswa atau kelompok yang mendapatkan reward karena tenang, ibadahnya rajin, diskusinya menarik, jawaban tepat, tidak mengganggu temannya saat belajar dan masih banyak yang lainnya.
Perlahan-lahan aku ajak mereka main game matematika “siapa cepat raih angka 20”. Pasti pembaca sudah pernah ya memainkan game seru satu ini. Alhamdulillah tanggapan mereka luar biasa. Mereka antusias untuk mengalahkan temannya, meski belum tau kata kuncinya. Dua jam pelajaran matematika hampir berakhir, namun mereka tetap saja bermain.
Diakhir permainan, pemenangnya harus melawanku. Sorak riuh terdengar karena Eza yang harus melawanku. Jelas saja tetap aku yang menang, karena Eza belum tahu kata kuncinya. 15 menit menjelang ganti pelajaran, kuselipkan nasehat kepada mereka. Bahwasannya, matematika itu pelajaran yang mudah dan menyenangkan.
Keesokan harinya, sebelum memulai pelajaran matematika, aku membawa game seru lagi yang membuat mereka bersemangat. Kali ini, yang bisa memecahkan teka-teki yang kubuat maka kelompoknya mendapatkan sebuah bintang. Dan ternyata kelompok Eza lah yang berhasil memecahkan teka-teki tersebut.
Suatu hari, saya sengaja memberikan soal matematika yang begitu mudah, agar sebagian besar dari mereka mendapat nilai 100. Saya yakin, patokan mereka adalah nilai. Saya minta kepada mereka untuk berdiskusi dalam mengerjakannya. Benar saja, saat buku mereka kembali dengan nilai 100 semua, mereka merasa bahagia. Alhamdulillah.
Diwaktu yang lain, aku memberikan soal yang mudah lagi agar mereka mulai suka dengan matematika. Alhamdulillah, apa yang aku pikirkan benar. Sms dan watshap dari orang tua wali murid mulai berdatangan. Mereka berkata, anaknya mulai suka dengan matematika, ada yang bilang belajar denganku asyik, pun ada yang bilang andai semua pelajaran aku yang mengampu. Ah, kalimat begituan membuatku ingin terbang melayang. (sabar eka, ini ujian). Lamunanku kuhentikan, aku mulai tersadar.
“ah, asyik karna itu fasion ku. Coba aku mengampu pelajaran IPS, pasti garing”
Pada hari Senin, setelah aku memberikan materi matematika. Aku menantang siswaku.
“Bu guru tantang kalian, bagi 2 orang pertama yang berani menghadap bapak kepala sekolah dan meminta soal matematika materi ini kemudian dia bisa menyelesaikan di hadapan beliau, Bu guru beri uang masing-masing 10 ribu”
Aku menyaksikan sesuatu yang lain di kelasku. Kenapa?
Karena, wajah mereka menunjukkan wajah siap. Sumringah, pertanda meng iyakan tantanganku.
Setelah sholat dzuhur berjamaah, kakiku melangkah ke kantor untuk mengambil secarik kertas penting. Tapi, sesampainya dikantor aku terkejut dengan dua siswaku yang sedang duduk dengan bapak kepala sekolah.
“Mas Nabel, mas Abim, apa yang kalian lakukan di sini?
“menjawab tantangan bu eka” jawab mereka
Aku kaget, sekaligus bangga dengan mereka. Aku biarkan mereka berbincang-bincang dengan kepala sekolah. Aku tinggalkan mereka berdua di kantor. Ketika kulirik, mereka sudah meninggalkan ruangan kepala sekolah, aku datangi ruangan beliau.
“Assalamualaikum pak”
“walaikumussalam wr wb ustadzah”
(yaelah, aku merasa tak pantas dengan sebutan itu)
“emmmmmmmmm pak, dua siswa tadi bisa jawab pertanyaan bapak tidak?”
“bisa,bisa”
“terimakasih pak”
Wah, hilang deh uangku, hahahaha. Aku mulai melangkahkan kaki menuju kelas. Baru saja masuk kelas.
“Bu eka, mana janjinya? Aku berani menghadap pak kepala sekolah dan bisa menjawab pertanyaan beliau” mereka menagih janjiku.
“Ah yang bener? Bu eka gak percaya ah”
“Bu eka nih bilang saja gak punya uang” ledek mereka
“macam-macam (kuambil dompet dan kukeluarkan uang dua puluh ribu”
“Bu, boleh tidak ditukar bintang saja? Kalau duit aku sudah punya banyak bu”.
Wah, padahal kalau duit kan bisa untuk apa saja. Sedangkan bintang hanya secarik kertas bergambar bintang. Untung nih aku, ah pikiran jahatku kubuang, aku harus memiliki pendirian apalagi di depan siswaku.
“ya tidak boleh to mas, hadiah uang ya uang, tidak boleh diganti bintang”
“bu, bu, bintang saja sih, 10 saja gak papa bintangnya”
“bintangnya tidak diperjual belikan ya”
Akhirnya mereka menerima hadiahku. Alhamdulillah kini di kelasku sebagian besar sudah menyukai pelajaran matematika. Semoga seterusnya akan menyukai matematika.

Senin, 18 April 2016

Si Dia Mengalihkan Perhatianku



Pagi yang cerah, saat itu hari Sabtu. Aku sedang membereskan kelas untuk persiapan masuk diawal semester baru. Aku seorang guru baru disebuah SD swasta.  Sebelumnya aku hanya  menggantikan salah satu guru yang kebetulan harus pulang kampung.
         
“Assalamu’alaikum, bu, maaf saya mau bertemu dengan Bu Eka. Yang mana ya?
          “Waalaikumsalam, iya saya sendiri Bu. Ada yang bisa saya bantu?

Terlihat seorang wanita cantik sedang menggendong anak kecil yang ternyata adalah si bungsu. Dia menceritakan ketiga anaknya yang salah satunya bernama Isam, berusia 8 tahun dan ia seorang tunarungu. Ibu itu menyampakan bahwa Isam adalah siswa pindahan dari sebuah sekolah swasta di Jawa. Kini Isam akan melanjutkan kelas 2 disekolah tempatku bekerja. Ibu itu menceritakan bahwa Isam akan menjadi salah satu siswa saya. Saya sangat terkejut, dalam hati bertanya-tanya “apa aku bisa?. Kulirik Isam yang sedang bermain kejar-kejaran dengan adiknya seraya berkata dalam hati “Ya Allah, apa ini?baru sebentar aku mencoba menjadi seorang guru, kini aku dihadapkan dengan seorang anak yang tuna rungu. Astaghfirullah. Aku beristighfar tak henti-hentinya.
Ternyata Isam menyadari, bahwa sedari tadi ia kuperhatikan. Dengan tersenyum manis dia memeluk Ibunya.
“Assalamu’alaikum sholih” sapaku dengan nada pelan seraya memegang tangannya.
“Wa’ala i kum sa lam” jawabnya sambil malu-malu.
Ibunya menjelaskan, bahwa sejak kecil ia memang sudah sekolah wicara. Jadi sekarang ia bisa bicara meski terbata-bata bahkan kalimatnya masih terbalik-balik.

Setelah lumayan lama kami berbincang-bincang, Ibunya Isam berpamitan.

          Bagaikan makan buah simalakama. Apa yang harus aku lakukan?. Ditambah lagi saat itu sekolah kami sedang kekurangan lokal. Semua siswa kelas 2 masuk siang, meskipun masuk siang kami tetap masih numpang diruang kelas milik TK. Disana belum ada bangku dan belum ada papan tulis besar. Jadi kami belajar beralaskan tikar dan menggunakan papan tulis mini berukuran 50 x 100 cm.
          Selang satu minggu aku bercengkrama dengan bermacam-macam karakter anak ditambah Isam, setiap malam aku menangis. Ya Allah, cobaan apa ini? Siapa aku hingga aku harus dititipi anak ini? Bagaimana jika aku tak bisa apa-apa?. Sempat aku  membenci kepala sekolah, karena menerima anak itu. Tapi seiring berjalannya waktu, ditambah nasehat dari Ibuku bahwa yang akan membuatku dewasa adalah beragam masalah yang kudapatkan, akhirnya aku sami’na wa atho’na. kuterima dengan segala keikhlasan.
          Dikeheningan malam, disepertiga malam terakhir doa yang kupanjatkan tidak lain hanya memohon kekuatan untuk mendidik mereka terutama Isam.
          Aku mulai menyusun rencana. Apa yang harus kulakukan pada Isam, karena hampir setiap hari dia kuacuhkan. Aku menghubungi orang tuanya. Alhamdulillah Ibunya “welcome” dengan curhatanku. Aku ceritakan bahwa aku tidak bisa mengajari Isam disaat jam belajar, aku minta Isam diantar jam 11.00 siang untuk belajar dulu di perpustakaan. Ibunya lantas bilang padaku.
"Wah,,saya sangat senang jika Ibu ada waktu. berapa biaya tambahannya Bu?

Aku tersenyum, kukatakan padanya.
"Maaf bu, saya bukan membuka les privat untuk Isam. Ini hanya kebetulan saya ada waktu luang. Selain itu, saya merasa malu jika Isam tidak mendapatkan ilmu apapun selama kelas 2"
Setelah hampir lama saya dan Ibunya Isam saling bercerita, akhirnya Ibunya Isam setuju dengan usul dan keinginan saya.
Selain itu, ternyata Isam dirumah juga privat dengan guru lain. Akupun menghubungi guru les nya untuk kumintai keterangan dan perkembangan Isam selama di rumah.
          Alhamdulillah dengan kerjasama bersama Ibunya dan guru lesnya akhirnya sedikit demi sedikit Isam mulai menunjukkan perkembangan belajarnya. Meskipun Ia termasuk siswa yang berkebutuhan khusus, namun semangat belajarnya luar biasa. Dia tak mau kalah dengan tema-temannya. Yang sangat menonjol, dia sangat pandai di pelajaran MTK dan olah raga. Dia sangat suka berhitung. Memang untuk pelajaran membaca dia kurang menguasai, namun bukankah siswa normal lainnya pun sama? Ada yang hanya pandai dalam beberapa bidang pelajaran saja.
          Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tak terasa sudah satu tahun Isam bersamaku. Saat – saat yang kucemaskan adalah dia akan naik ke kelas 3, sedangkan aku tak bisa mendampinginya lagi. Aku juga ragu, apakan dia bisa mengikuti pelajaran dikelas selanjutnya? “ah, aku pasrahkan ia pada Allah. Harapanku guru selanjutnya yang akan memegang Isam akan lebih sabar dibandingkan aku. Akan lebih baik dibandingkan aku. Karna aku hanyalah seseorang yang baru belajar menjadi seorang guru.
          Hal yang tak bisa kulupakan adalah saat aku mengajari Isam jika bertemu dengan guru harus mencium tangan dan mengucapkan salam kini anak itu mempraktekannya. Dimanapun dia bertemu denganku, pasti dia lari untuk mengejarku, diraihnya tanganku lalu ia mengucapkan salam seraya mencium tanganku. Selain itu, yang selalu kuingat adalah ketika dia belajar tahfidz bersamaku kemudian ada ayat yang menurutnya susah untuk dihafal, dia akan memejamkan matanya, mendengarkan ketukan-ketukan yang kubuat, kemudian ia mulai menghafal.
Tak terasa air mata ini menetes tatkala mengingatnya. Semoga nanti ia menjadi orang sukses bersama semangatnya yang tak pernah padam.

Minggu, 17 April 2016

Ini Tentang Sinergi Antara Kita

Setelah saya membaca buku Strategi Pembelajaran Menyenangkan dengan Humor oleh Darmansyah, S. T., M. Pd. Didalamnya banyak sekali mengupas berbagai strategi dalam mendidik anak.
mata saya tertuju pada sebuah kalimat "Semangat belajar muncul ketika suasana begitu menyenangkan dan belajar akan efektif bila seseorang dalam keadaan gembira dalam belajar (Dryden & Vos, dalam Darmansyah)

Berulang-ulang kubaca kalimat tersebut, lantas aku berfikir.
"WAW.......amazing.....luar biasa, benar juga. disaat hati peserta didik merasa senang, bahagia, nyaman didukung dengan suasana hati pendidik yang juga tengah merasa gembira dan ikhlas untuk menyalurkan ilmunya, bukan hal yang mustahil pembelajaran akan berlangsung begitu efektif"

Pertanyaan yang timbul dalam benak saya adalah bagaimana caranya?
Ya....bagaimana,,,, bagaimana menciptakan suasana seperti itu?
Pada kenyataanya, pendidik tidak tahu apa yang telah terjadi di rumah sebelum peserta didik berangkat sekolah. Apakah peserta didik berangkat sekolah dalam keadaan bahagia? atau sedih? atau mungkin dia berangkat sekolah dalam keadaan tertekan?
Tertekan karena uang saku mungkin. Tertekan karna membawa bekal dengan lauk yang tidak diminati. Atau bisa jadi, ia tertekan karena sebelum ke sekolah, dirumah sudah dimarah-marah sama orang tua.

Jika memang demikian keadaanya, bagaimana peserta didik akan nyaman belajar di sekolah? bagaimana akan efektif untuk belajar.

Kemungkinan selanjutnya yang mungkin bisa saja terjadi adalah pendidik yang acuh-tak acuh. Pendidik yang dalam hatinya belum mempunyai setitik rasa ikhlas untuk menyalurkan ilmunya, atau malah pendidik yang sedang banyak masalah lalu masalah tersebut dibawa sampai sekolah. Wah, ini yang bahaya. 

Saya rasa, teori Dryden & Vos akan terlaksana jika antara peserta didik dan pendidik sama-sama dalam keadaan bahagia.
Keren juga yah, bahagia.
Menjadi seorang pendidik ya harus ikhlas. Tetap tersenyum manis didepan peserta didik padahal sedang dirundung masalah.
Sebaiknya juga, sebelum berangkat ke sekolah orang tua menjaga suasana hati sang buah hati sehingga dia akan merasa nyaman untuk belajar. In syaa Allah jika antara peserta didik, orang tua, dan pendidik saling bekerja sama untuk senantiasa menjaga suasana hati sehingga Kegiatan Belajar Mengajar berlangsung efektif.

Eka Adinia, S.Pd

Minggu, 20 Maret 2016

Ayah

Teruntuk Ayahku Tercinta

Saat kau tak ada disisiku
Aku merasa membutuhkanmu,,,
Hati ini pilu mengenangmu yang jauh disana

Saat kutanyakan kabarmu
Percayalah, aku tak ada maksud lain ....
Hanya kabar kesehatanmu yang kutunggu

Maavkan aku,.....
Dulu nasehatmu kuabaikan
Kata-katamu kupatahkan

Saat ini kusadar.....
Betapa sesungguhnya kau mencintaiku
Mencintai anak-anakmu

Ayah, bertahanlah sejenak di sana
Dan bila saatnya tiba,,,,kembalillah dengan sejuta cintamu untukku,
Untuk semua anak-anakmu
Tetes air matamu menyayat hatiku
Berjanjilah untuk tidak menangis lagi......

Lantunan do'a aku persembahkan untukmu
Aku menyayangimu,,,,,

Meski kadang kuberfikir caraku salah
Yakinlah bahwa Aku selalu menyayangimu.

Kejujuran Yang Utama

Dulu sering sekali aku membuat catatan jika aku suntuk. kali ini aku mencoba membuka catatan itu, kutemukan gsedikit goresan tinta ini......

Bismillah, akan kucoba tulis ulang disini.





Kadang-kadang kita terlalu menjaga hati dan perasaan orang lain, kita takut segala kebenaran yang akan disampaikan akan membuatkan hati sesetengah orang yang ada disekeliling kita akan terluka. Sayangnya kerana terlalu menjaga hati orang lain, kita sebenarnya telah menyebabkan hati orang-orang yang ingin kita jaga itu jadi bertambah terluka apabila kebenaran yang disembunyikan itu akhirnya terbongkar.

Sepahit mana pun kebenaran itu, jadilah orang yang berani menyatakannya. Mungkin dengan keberanian itu, orang-orang yang ada disekeliling kita akan lebih menghargai keikhlasan dan kejujuran kita. Ajarlah jiwa kita agar sentiasa berlapang dada dan sentiasa berani menghadapi setiap kemungkinan yang akan terjadi setelah kebenaran itu dinyatakan. Kita bukanlah manusia yang terlalu sempurna, yang tidak pernah melakukan kesilapan dalam hidup namun setiap kesilapan yang pernah dilakukan haruslah dikaji agar kesilapan-kesilapan itu tidak berulang lagi pada masa-masa akan datang.

Saya tahu, di luar sana ramai yang bertindak menyembunyikan kebenaran dan mereka ini saya percaya bukanlah tidak jujur, tidak ikhlas atau hipokrit tapi mereka pasti punya alasan tersendiri untuk tidak menyatakan kebenaran itu.

Untuk semua, jika anda benar-benar menyayangi dan menghargai persahabatan yang anda jalin dengan sahabat-sahabat anda, beranilah menyatakan kebenaran. Beranilah menegur jika ada salah silap yang dilakukannya. Tegurlah dengan berhemah dan penuh kasih sayang bukan dengan kritikan dan cemuhan menghina. Persahabatan dan perhubungan yang dibina berlandaskan kasih sayang pasti akan menjadikan sesuatu perhubungan itu lebih manis dan menghiburkan..

Bertanya Dalam Lamunan

Bertanya Dalam Lamunan

Jika seorang guru belum mempunyai rencana apapun untuk mengelola kelasnya. Bahkan tak punya rencana materi apa saja yang akan disampaikan, atau tak punya targetan ilmu apa saja yang akan dibagikan kepada siswanya, itu masalah yang sangat luar biasa. Lantas pertanyaan yang timbul "mau dibawa kemana anak didiknya?". Sepandai-pandainya seorang guru, rencana pengelolaan kelas, rencana materi pembelajaran dan targetan harus tetap ada. Targetan apa? bukan hanya targetan materi pelajaran tetapi targetan akhlaq yang harus tertanam dalam jiwa peserta didik juga harus punya. Karena sesungguhnya tugas guru tak hanya menyampaikan materi pelajaran, namun menuntun siswa untuk mempunyai akhlaq yang baik.

Namun, tidak jarang seorang guru yang sudah mempunyai rencana pembelajaran, rencana mengelola kelas, bahkan mempunyai target-target yang matang pun sering mengalami kegagalan. Entah peserta didik yang susah menangkap pesan guru atau guru yang kurang pandai menyampaikan maksudnya?

Ngomong-ngomong masalah nilai, terkadang bikin bingung guru juga.
Saat ulangan harian, 75% siswa mendapat nilai diatas KKM bahkan 25% siswa mndpat nilai 100. pertanyaanya hanya 2:
A. soalnya terlalu mudah
B. anak2 super pandai.


Saat ulangan harian 50% siswa mendapat nilai dibawah KKM. pertanyaanya juga 2:
A. soal yg terlalu sulit
B. guru yg belum berhasil menyampaikan materi 


Memang evaluasi sangat dibutuhkan setiap saat. Terus laksanakan evaluasi diri sehingga kedepan kita akan menjadi seorang guru yang profesional.