Selasa, 19 April 2016

Akhirnya Aku Berjilbab

Saat otak-atik catatan,,,, aku menemukan sebuah tulisan. tulisan ini kubuat dulu, dulu sekali saat detik-detik peralihan dari zaman jahiliyah melangkah ke zaman dimana ada secercah cahaya.


“Wah, Zaskiya Adya Mecca cantik banget ya”. (gumamku saat aku melihat dia tampil disalah satu stasiun TV).

Sejak aku melihat cantiknya Zaskiya, aku mulai mengumpulkan uang untuk membeli jilbab. Saat itu aku kelas XII di sebuah SMA Negeri di kotaku. Meskipun aku sudah berjilbab, tapi saat bermain, dan bertanding voly, jilbab yang kukenakan aku lepas. Aku adalah salah satu siswa yang selalu mengikuti pertandingan voly. Karena sejak SD aku sudah hobi bermain voly.

“Ca, besok Minggu kita diajak sparing. Kamu jadi touser kita ya”. Ajak Desi.
“OK....jemput aku ya. Jam berapa?” Jawabku.
“Jam 2 aku jemput kamu di rumah”. Jawabnya singkat.
“sepakat.....aku tunggu”. Jawabku lagi sambil berlalu.
           
            Aku sudah terbiasa menjadi pemain jemputan. Merekapun juga terbiasa aku jemput untuk bertanding saat di desaku kekurangan pemain.
Hari Minggupun tiba. Setelah shalat dzuhur, aku bersiap-siap untuk mengikuti lomba voly. Kaos team kukenakan, sepatu olahraga aku siapkan. Sambil menunggu jemputan, aku latihan passing.

“Hei, lama ya nunggunya?” Sapa Desi sambil mematikan motornya.
“Enggak juga, yok berangkat. Bu, Ecca berangkat dulu ya, assalamu’alaikum”. Ucapku sambil mencium tangan Ibuku.
“Iyya, hati-hati ya. Cepat pulang kalau pertandingan sudah selesai”. Pesan Ibuku.
“Ok simbok........” Ledekku pada Ibuku.

Pertandingan berlangsung sangat meriah. Pertandingan yang cukup sengit itu bertahan sampai hampir dua jam. Namun pada akhirnya team kami memenangkan pertandingan tersebut dengan skor 5-4. Esoknya di sekolah, teman-teman asyik membicarakan pertandingan voly kemarin. Rata-rata mereka berasal dari desa tempat aku bertanding kemarin.

“Hai mbak Ecca, mbak yang kemarin ikut voli kan? Aku Kana adik kelas mbak”. Sapa salah satu adik kelasku.
“Iyya,,,salam kenal ya.” Jawabku.
“Kata Pak Heri, Mbak Ecca pintar matematika. Aku ajarin dong mbak?” Sahut Kana.
“Ah, Pah Heri mengada-ada saja. Jangan percaya, itu tandanya beliau lagi males ngajarin kamu”. Jawabku sambil tertawa kecil.
“Betul dek, mbak Ecca mah merendah terus. Padahal dia anak emasnya Pak Heri loh.” Sahut Dwi, teman sekelasku.

Dwi adalah salah satu sahabtku yang cantik dan sholikhah. Wajahnya manis berbalut jilbab lebar.

Panggilan untuk Ecca kelas XII IPA ditunggu Pak Heri, harap segera kekantor.

Pak Heri adalah guru matematikaku yang katanya galak. Tapi menurutku baik dan humoris. Memang kadang senyumnya agak sinis. Beliau juga pelatih volyku di sekolah, jadi kami lumayan akrab.

“Mbak Ecca kena getahnya, barusan ngomongin Pak Heri sudah dipanggil mau di marah-marah tuh.” Ledek Kana padaku.

Aku tersenyum sambil berlalu dari Dwi dan Kana.

“Selamat siang pak, Bapak memanggil saya?” Tanyaku.
“Masuk Ca,begini...... untuk memperingati Hari Kemerdekaan, kita ikut pertandingan voly. Jadi, mulai dari sekarang kamu infokan ke teman-teman untuk rajin latihan ya”. Kata Pak Heri.
“Emmmmm........siap Pak. Nanti Ecca infokan ke teman-teman.”

Setelah selesai berbincang-bincang, saya berpamitan dan kembali menemui Dwi dan Kana. Tapi yang kutemui hanya Dwi. Ternnyata Kana sudah kembali ke kelasnya.

“Ada yang penting Ca?.” Tanya Dwi.
“Mau ada lomba voly lagi Wi....” Jawabku.
“Ca, maaf sebelumnya. Kenapa sewaktu voli kamu tidak pakai saja jilbabmu?” Nasehat Dwi
“Ya lucu dong Wi, masak voly pakai jilbab.”
“Tidak ada yang lucu Ca. Apalagi di hadapan Allah semua akan dipertanyakan. Jilbabmmu, auratmu, shalatmu, bukan volimu.” Lanjut Dwi.
“Tapi Dwi, apa semua orang tidak akan tertawa melihatku voly berjilbab?” Rengekku.
“Pilih mana? Ditertawakan orang atau kena hukuman Allah?” Jawab Dwi memojokkanku.
“Ah kamu Wi, pertanyaanmu selalu berbahaya. Akan kufikirkan Wi. Masuk kelas yuk”. Ajakku.

            Sejak perbincangan itu, aku selalu memikirkan kata-kata Dwi. Sempat aku membaca sebuah artikel ada tulisan “jilbab bukan alasan untuk kita berhenti beraktifitas”. Aku mulai berfikir dan terus berfikir. Saat itu juga lagi booming film “Ketika Cinta Bertasbih” yang diperankan oleh Oki Setiana Dewi. Ma syaa Allah, begitu anggun da manis mbak Oki berbalut jilbab yag sangat besar. Mulai dari pesa seorang sahabat, bacaan di artikel, serta dorongan minat yang timbul karna Oki muncul, akhirnya aku putuskan bahswa aku akan berjilbab terus.
            Saat latihan voli dimulai, aku mengenakan traning panjang berbalut jilbab.

“Pak, bolehkah saya bermain voly tapi tetap berjilbab?
“Ya, asal kamu nyaman.... tapi singsingkan lengan bajumu, itu akan mengganggumu saat passing.” Jawab Pak Heri.

            Hari berganti hari, akhirnya pertandingan yang kita nantikan tiba juga. Saya dan team sangat semangat. Aku adalah satu-satunya siswa Negeri yang bermain voly dengan memakai jilbab. Awalnya semua teman tidak setuju dengan keputusanku, tapi lama-kelamaan mereka mau mengerti. Pertandingan berlangsung menegangkan. Hari pertama team kami menang, begitu juga hari-hari berikutnya. Dan sampailah kita pada final.

“Jilbab tidak menghalangimu beraktifitas kan Ca? Semangat ya.” Ucap Dwi saat aku mau mulai final itu.
“Thank’s ya Wi. Doakan team kita menang ya.”
“Doaku bersamamu Ca.”
           
Pertandingan yang sangat meriah, karena kedua team sama-sama mempertahankan skor. Di menit-menit terakhir, situasi yang sangat menegangkan, skor kami hanya beda satu angka dengan skor lawan. Namun akhirnya final voly dimenangkan oleh SMA ku.

“Selamat ya Ca, kamu berhasil.” Ucap Dwi sambil memelukku.
“Berkat do’amu juga Wi.”
“apa kataku, jilbab tidak menghalangi aktifitasmu kan? Selain memenangkan voly ini, secara tidak sengaja kamu sedang mengajak teman-teman untuk berjilbab.” Ucap Dwi sambil tersenyum.
“Trimakasih nasehatmu Wi, kamu yang terbaik deh” Ucapku sambil berjalan menuju Pak Heri dan teman-teman.

            Mulai saat itu, aku tidak meninggalkan jilbabku. Aku yakin Allah akan meridhoi langkahku selama aku mengkuti perintah-Nya. Bukankah berjilbab itu perintah-Nya.
Perubahan pada diriku terus terjadi. Setelah lulus SMA aku mendaftar di perguruan tinggi swasta. Disana aku mempunyai banyak sahabat muslim. Setelah banyak belajar tentang jilbab, kini aku yang sekarang telah mengenakan jilbab lebar. Seperti motivatorku, Oki Setiana Dewi. Aku mengikuti jejaknya untuk terus berjilbab lebar.

“Jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu...” Muhammad:7

            Memperbanyak sahabat muslim akan sangan membantu kita memperbaiki kwalitas diri kita. Dan untuk jilbab, bukankah Dia telah memerintahkan kita untuk berjilbab?. Firman Allah itu  sebuah kewajiban yang harus kita laksanakan. Soo, untuk semua saudari seiman. Mari berjilbab!

Senin, 18 April 2016

Si Dia Mengalihkan Perhatianku



Pagi yang cerah, saat itu hari Sabtu. Aku sedang membereskan kelas untuk persiapan masuk diawal semester baru. Aku seorang guru baru disebuah SD swasta.  Sebelumnya aku hanya  menggantikan salah satu guru yang kebetulan harus pulang kampung.
         
“Assalamu’alaikum, bu, maaf saya mau bertemu dengan Bu Eka. Yang mana ya?
          “Waalaikumsalam, iya saya sendiri Bu. Ada yang bisa saya bantu?

Terlihat seorang wanita cantik sedang menggendong anak kecil yang ternyata adalah si bungsu. Dia menceritakan ketiga anaknya yang salah satunya bernama Isam, berusia 8 tahun dan ia seorang tunarungu. Ibu itu menyampakan bahwa Isam adalah siswa pindahan dari sebuah sekolah swasta di Jawa. Kini Isam akan melanjutkan kelas 2 disekolah tempatku bekerja. Ibu itu menceritakan bahwa Isam akan menjadi salah satu siswa saya. Saya sangat terkejut, dalam hati bertanya-tanya “apa aku bisa?. Kulirik Isam yang sedang bermain kejar-kejaran dengan adiknya seraya berkata dalam hati “Ya Allah, apa ini?baru sebentar aku mencoba menjadi seorang guru, kini aku dihadapkan dengan seorang anak yang tuna rungu. Astaghfirullah. Aku beristighfar tak henti-hentinya.
Ternyata Isam menyadari, bahwa sedari tadi ia kuperhatikan. Dengan tersenyum manis dia memeluk Ibunya.
“Assalamu’alaikum sholih” sapaku dengan nada pelan seraya memegang tangannya.
“Wa’ala i kum sa lam” jawabnya sambil malu-malu.
Ibunya menjelaskan, bahwa sejak kecil ia memang sudah sekolah wicara. Jadi sekarang ia bisa bicara meski terbata-bata bahkan kalimatnya masih terbalik-balik.

Setelah lumayan lama kami berbincang-bincang, Ibunya Isam berpamitan.

          Bagaikan makan buah simalakama. Apa yang harus aku lakukan?. Ditambah lagi saat itu sekolah kami sedang kekurangan lokal. Semua siswa kelas 2 masuk siang, meskipun masuk siang kami tetap masih numpang diruang kelas milik TK. Disana belum ada bangku dan belum ada papan tulis besar. Jadi kami belajar beralaskan tikar dan menggunakan papan tulis mini berukuran 50 x 100 cm.
          Selang satu minggu aku bercengkrama dengan bermacam-macam karakter anak ditambah Isam, setiap malam aku menangis. Ya Allah, cobaan apa ini? Siapa aku hingga aku harus dititipi anak ini? Bagaimana jika aku tak bisa apa-apa?. Sempat aku  membenci kepala sekolah, karena menerima anak itu. Tapi seiring berjalannya waktu, ditambah nasehat dari Ibuku bahwa yang akan membuatku dewasa adalah beragam masalah yang kudapatkan, akhirnya aku sami’na wa atho’na. kuterima dengan segala keikhlasan.
          Dikeheningan malam, disepertiga malam terakhir doa yang kupanjatkan tidak lain hanya memohon kekuatan untuk mendidik mereka terutama Isam.
          Aku mulai menyusun rencana. Apa yang harus kulakukan pada Isam, karena hampir setiap hari dia kuacuhkan. Aku menghubungi orang tuanya. Alhamdulillah Ibunya “welcome” dengan curhatanku. Aku ceritakan bahwa aku tidak bisa mengajari Isam disaat jam belajar, aku minta Isam diantar jam 11.00 siang untuk belajar dulu di perpustakaan. Ibunya lantas bilang padaku.
"Wah,,saya sangat senang jika Ibu ada waktu. berapa biaya tambahannya Bu?

Aku tersenyum, kukatakan padanya.
"Maaf bu, saya bukan membuka les privat untuk Isam. Ini hanya kebetulan saya ada waktu luang. Selain itu, saya merasa malu jika Isam tidak mendapatkan ilmu apapun selama kelas 2"
Setelah hampir lama saya dan Ibunya Isam saling bercerita, akhirnya Ibunya Isam setuju dengan usul dan keinginan saya.
Selain itu, ternyata Isam dirumah juga privat dengan guru lain. Akupun menghubungi guru les nya untuk kumintai keterangan dan perkembangan Isam selama di rumah.
          Alhamdulillah dengan kerjasama bersama Ibunya dan guru lesnya akhirnya sedikit demi sedikit Isam mulai menunjukkan perkembangan belajarnya. Meskipun Ia termasuk siswa yang berkebutuhan khusus, namun semangat belajarnya luar biasa. Dia tak mau kalah dengan tema-temannya. Yang sangat menonjol, dia sangat pandai di pelajaran MTK dan olah raga. Dia sangat suka berhitung. Memang untuk pelajaran membaca dia kurang menguasai, namun bukankah siswa normal lainnya pun sama? Ada yang hanya pandai dalam beberapa bidang pelajaran saja.
          Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tak terasa sudah satu tahun Isam bersamaku. Saat – saat yang kucemaskan adalah dia akan naik ke kelas 3, sedangkan aku tak bisa mendampinginya lagi. Aku juga ragu, apakan dia bisa mengikuti pelajaran dikelas selanjutnya? “ah, aku pasrahkan ia pada Allah. Harapanku guru selanjutnya yang akan memegang Isam akan lebih sabar dibandingkan aku. Akan lebih baik dibandingkan aku. Karna aku hanyalah seseorang yang baru belajar menjadi seorang guru.
          Hal yang tak bisa kulupakan adalah saat aku mengajari Isam jika bertemu dengan guru harus mencium tangan dan mengucapkan salam kini anak itu mempraktekannya. Dimanapun dia bertemu denganku, pasti dia lari untuk mengejarku, diraihnya tanganku lalu ia mengucapkan salam seraya mencium tanganku. Selain itu, yang selalu kuingat adalah ketika dia belajar tahfidz bersamaku kemudian ada ayat yang menurutnya susah untuk dihafal, dia akan memejamkan matanya, mendengarkan ketukan-ketukan yang kubuat, kemudian ia mulai menghafal.
Tak terasa air mata ini menetes tatkala mengingatnya. Semoga nanti ia menjadi orang sukses bersama semangatnya yang tak pernah padam.

Minggu, 17 April 2016

Ini Tentang Sinergi Antara Kita

Setelah saya membaca buku Strategi Pembelajaran Menyenangkan dengan Humor oleh Darmansyah, S. T., M. Pd. Didalamnya banyak sekali mengupas berbagai strategi dalam mendidik anak.
mata saya tertuju pada sebuah kalimat "Semangat belajar muncul ketika suasana begitu menyenangkan dan belajar akan efektif bila seseorang dalam keadaan gembira dalam belajar (Dryden & Vos, dalam Darmansyah)

Berulang-ulang kubaca kalimat tersebut, lantas aku berfikir.
"WAW.......amazing.....luar biasa, benar juga. disaat hati peserta didik merasa senang, bahagia, nyaman didukung dengan suasana hati pendidik yang juga tengah merasa gembira dan ikhlas untuk menyalurkan ilmunya, bukan hal yang mustahil pembelajaran akan berlangsung begitu efektif"

Pertanyaan yang timbul dalam benak saya adalah bagaimana caranya?
Ya....bagaimana,,,, bagaimana menciptakan suasana seperti itu?
Pada kenyataanya, pendidik tidak tahu apa yang telah terjadi di rumah sebelum peserta didik berangkat sekolah. Apakah peserta didik berangkat sekolah dalam keadaan bahagia? atau sedih? atau mungkin dia berangkat sekolah dalam keadaan tertekan?
Tertekan karena uang saku mungkin. Tertekan karna membawa bekal dengan lauk yang tidak diminati. Atau bisa jadi, ia tertekan karena sebelum ke sekolah, dirumah sudah dimarah-marah sama orang tua.

Jika memang demikian keadaanya, bagaimana peserta didik akan nyaman belajar di sekolah? bagaimana akan efektif untuk belajar.

Kemungkinan selanjutnya yang mungkin bisa saja terjadi adalah pendidik yang acuh-tak acuh. Pendidik yang dalam hatinya belum mempunyai setitik rasa ikhlas untuk menyalurkan ilmunya, atau malah pendidik yang sedang banyak masalah lalu masalah tersebut dibawa sampai sekolah. Wah, ini yang bahaya. 

Saya rasa, teori Dryden & Vos akan terlaksana jika antara peserta didik dan pendidik sama-sama dalam keadaan bahagia.
Keren juga yah, bahagia.
Menjadi seorang pendidik ya harus ikhlas. Tetap tersenyum manis didepan peserta didik padahal sedang dirundung masalah.
Sebaiknya juga, sebelum berangkat ke sekolah orang tua menjaga suasana hati sang buah hati sehingga dia akan merasa nyaman untuk belajar. In syaa Allah jika antara peserta didik, orang tua, dan pendidik saling bekerja sama untuk senantiasa menjaga suasana hati sehingga Kegiatan Belajar Mengajar berlangsung efektif.

Eka Adinia, S.Pd

Minggu, 20 Maret 2016

Ayah

Teruntuk Ayahku Tercinta

Saat kau tak ada disisiku
Aku merasa membutuhkanmu,,,
Hati ini pilu mengenangmu yang jauh disana

Saat kutanyakan kabarmu
Percayalah, aku tak ada maksud lain ....
Hanya kabar kesehatanmu yang kutunggu

Maavkan aku,.....
Dulu nasehatmu kuabaikan
Kata-katamu kupatahkan

Saat ini kusadar.....
Betapa sesungguhnya kau mencintaiku
Mencintai anak-anakmu

Ayah, bertahanlah sejenak di sana
Dan bila saatnya tiba,,,,kembalillah dengan sejuta cintamu untukku,
Untuk semua anak-anakmu
Tetes air matamu menyayat hatiku
Berjanjilah untuk tidak menangis lagi......

Lantunan do'a aku persembahkan untukmu
Aku menyayangimu,,,,,

Meski kadang kuberfikir caraku salah
Yakinlah bahwa Aku selalu menyayangimu.

Liku-liku Perjalanan

 Salah satu tulisanku yang termuat dalam buku WUPK di SDIT wahdatul Ummah Metro.

Bismillah........
Dalam sebuah perjalanan, jika tidak ada hambatannya mungkin tak akan ada cerita dimasa tua.
Begitu juga dengan hidupku,mungkin hidupmu, bahkan hidup mereka.
Apalagi kehidupan di desa-desa, acapkali ucapan penduduk desa yang sebenarnya tidak tahu apa-apa menyentuh hatiku. Sakit hati mungkin iya, sesekali aku merasakan sakit hati, tapi Ibuku selalu berkata, "abaikan ucapan itu, anggap saja koreksi diri"

Dalam sebuah perjuangan ada saatnya kita kalah, ada juga saatnya kita menang.
jadi ingat kata-kata

"Engkau menjadi pemenang bukan karena engkau tak pernah gagal, tapi karena engkau tak pernah menyerah"

Bener banget kan.... Kalau saja saat kita kalah langsung menyerah, kita tak kan pernah tahu bahwa nanti kita mungkin bisa menang. Baiknya saat kita kalah, kita terus mencobanya, sampai kita menang dan berkata "Yessss"

Liku-liku kehidupan serta pengalaman pahit kujadikan guru terbaikku,,,,,
yang bisa kukatakan saat ini adalah ........

"janganlah berfokus pada kekuranganmu, tapi pada kelebihan yang bisa kau bangun dari apa pun yang sudah ada padamu. Janganlah membandingkan kelemahanmu dengan kelebihan orang lain. Yang saat ini membicarakanmu dibelakang hanyalah orang-orang yang iri dengan semangatmu.....

Jadilah dirimu yang gagah, yang tetap bangkit untuk setiap kali jatuhmu,
dan yang berdiri tegak di hadapan kesulitan dan masalah.

agar kalah atau menang, menang atau kalah, engkau bisa berkata lantang:
Ini hidupku. Akulah penentu bagaimana aku menjadikannya kebanggaan jiwaku.

Saat ditanya, "siapa yang akan menjadi penentu kebesaran hidupmu?
Jawab saja dengan gagah, bahwa
"Aku penentu kebesaran hidupku"

Kejujuran Yang Utama

Dulu sering sekali aku membuat catatan jika aku suntuk. kali ini aku mencoba membuka catatan itu, kutemukan gsedikit goresan tinta ini......

Bismillah, akan kucoba tulis ulang disini.





Kadang-kadang kita terlalu menjaga hati dan perasaan orang lain, kita takut segala kebenaran yang akan disampaikan akan membuatkan hati sesetengah orang yang ada disekeliling kita akan terluka. Sayangnya kerana terlalu menjaga hati orang lain, kita sebenarnya telah menyebabkan hati orang-orang yang ingin kita jaga itu jadi bertambah terluka apabila kebenaran yang disembunyikan itu akhirnya terbongkar.

Sepahit mana pun kebenaran itu, jadilah orang yang berani menyatakannya. Mungkin dengan keberanian itu, orang-orang yang ada disekeliling kita akan lebih menghargai keikhlasan dan kejujuran kita. Ajarlah jiwa kita agar sentiasa berlapang dada dan sentiasa berani menghadapi setiap kemungkinan yang akan terjadi setelah kebenaran itu dinyatakan. Kita bukanlah manusia yang terlalu sempurna, yang tidak pernah melakukan kesilapan dalam hidup namun setiap kesilapan yang pernah dilakukan haruslah dikaji agar kesilapan-kesilapan itu tidak berulang lagi pada masa-masa akan datang.

Saya tahu, di luar sana ramai yang bertindak menyembunyikan kebenaran dan mereka ini saya percaya bukanlah tidak jujur, tidak ikhlas atau hipokrit tapi mereka pasti punya alasan tersendiri untuk tidak menyatakan kebenaran itu.

Untuk semua, jika anda benar-benar menyayangi dan menghargai persahabatan yang anda jalin dengan sahabat-sahabat anda, beranilah menyatakan kebenaran. Beranilah menegur jika ada salah silap yang dilakukannya. Tegurlah dengan berhemah dan penuh kasih sayang bukan dengan kritikan dan cemuhan menghina. Persahabatan dan perhubungan yang dibina berlandaskan kasih sayang pasti akan menjadikan sesuatu perhubungan itu lebih manis dan menghiburkan..

Bertanya Dalam Lamunan

Bertanya Dalam Lamunan

Jika seorang guru belum mempunyai rencana apapun untuk mengelola kelasnya. Bahkan tak punya rencana materi apa saja yang akan disampaikan, atau tak punya targetan ilmu apa saja yang akan dibagikan kepada siswanya, itu masalah yang sangat luar biasa. Lantas pertanyaan yang timbul "mau dibawa kemana anak didiknya?". Sepandai-pandainya seorang guru, rencana pengelolaan kelas, rencana materi pembelajaran dan targetan harus tetap ada. Targetan apa? bukan hanya targetan materi pelajaran tetapi targetan akhlaq yang harus tertanam dalam jiwa peserta didik juga harus punya. Karena sesungguhnya tugas guru tak hanya menyampaikan materi pelajaran, namun menuntun siswa untuk mempunyai akhlaq yang baik.

Namun, tidak jarang seorang guru yang sudah mempunyai rencana pembelajaran, rencana mengelola kelas, bahkan mempunyai target-target yang matang pun sering mengalami kegagalan. Entah peserta didik yang susah menangkap pesan guru atau guru yang kurang pandai menyampaikan maksudnya?

Ngomong-ngomong masalah nilai, terkadang bikin bingung guru juga.
Saat ulangan harian, 75% siswa mendapat nilai diatas KKM bahkan 25% siswa mndpat nilai 100. pertanyaanya hanya 2:
A. soalnya terlalu mudah
B. anak2 super pandai.


Saat ulangan harian 50% siswa mendapat nilai dibawah KKM. pertanyaanya juga 2:
A. soal yg terlalu sulit
B. guru yg belum berhasil menyampaikan materi 


Memang evaluasi sangat dibutuhkan setiap saat. Terus laksanakan evaluasi diri sehingga kedepan kita akan menjadi seorang guru yang profesional.