Saturday 21 December 2019

Rihlah ke Pantai Mutun (Guru SDIT Wahdatul Ummah Metro)



Diakhir semester, para pejuang pendidikan selalu berkutat dengan istilah populer,  olah nilai,  remidi,  isi raport dan lain-lain. Sampailah pada  kalimat siap bagi raport.


 Seperti halnya di SDIT Wahdatul Ummah.  Pada tanggal 2 Desember lalu telah dilaksanakan Penilaian Akhir Semester (PAS). Meski PAS berakhir di tanggal 7 Desember,  namun kegiatan Bapak dan Ibu guru belum juga berakhir.   Mereka harus mengolah hasil PAS semua peserta didik,  dari menilai sampai menganalisis soal agar tahu tingkat kesulitan soal.  Belum lagi mengadakan remedial bagi siswa yang nilainya belum mencapai KKM.  

Setelah kegiatan remedi selesai,  mereka mulai berkutat dengan raport.  Banyak hal yang harus diisi dalam raport,  dari penilaian sikap,  religius,  kognitif,  psikomotorik sampai dengan catatan wali kelas.  Semua itu sangat menyita waktu, tenaga dan pikiran.

Oleh karena itu,  Kepala SDIT Wahdatul Ummah (Bapak Sarifudin,  M. Pd.I) merencanakan Rihlah setelah bagi raport selesai.  Bahagia tentunya.

Apa itu Rihlah?

Kata rihlah diambil dari bahasa arab yang berarti perjalanan. Rihlah ialah perjalanan mentadabburi alam dengan maksud dan tujuan yang baik dan di dasarkan niat kepada Allah SWT. Perjalanan yang dimaksud di sini bukanlah berarti sebagai musafir yang melakukan perjalanan jauh melainkan perjalanan di sini adalah sebuah perjalan yang dianggap sebagai liburan dari kegiatan yang telah berlangsung lama, meninggalkan kegiatan kantor, meninggalkan sementara waktu pekerjaan.


Rihlah sendiri memiliki banyak manfaat,  diantaranya: menguatkan rasa solidaritas, mengukuhkan ukhuwah, memperbaiki kembali kerenggangan ukhuwah, membangun kebersamaan/rasa peduli terhadap sesama.


Kali ini kami diajak rihlah ke Pantai Mutun, alhamdulillah meski bukan liburan ke luar negeri ala para artis,  kami sudah merasa bahagia.  Tak banyak yang dapat hadir dalam acara ini dikarenakan beberapa guru telah memiliki agenda tersendiri,  ada yang menjenguk ayahanda di seberang sana,  ada yang menjemput anaknya yang tengah mondok, dan masih banyak acara lainnya.

Bis kami melaju meninggalkan sekolah tercinta kurang lebih pukul 08.00, alhamdulillah dengan kecepatan yang cukup tinggi juga jalan tak terlalu macet,  pukul 10.30 bis kami sudah sampai di tempat tujuan.  Karena lapar yang mendera, kami pun membuka bekal makanan kami.  Ya,  disini kami saling berbagi,  ada yang berbagi sambal,  lauk,  nasi,  bahkan kulubpan (rebusan daun singkong)  juga.

Usai makan bersama,  kami mulai berpencar.
Ada yang membawa pancing untuk menyalurkan hobinya.  Ada yang memanfaatkan momet itu untuk membahagiakan anak,  ada yang bermain banana boot,  ada pula yang hanya sekedar ingin mengambil pict di tempat-tempat tertentu.  Sampai adzan berkumandang kami segera membilas kemudian melaksanakan sholat dzuhur serta asar di jamak sekalian.

Awalnya kami akan pergi ke dua tempat,  namun karena keadaan yang tak memungkinkan akhirnya pukul 14.05 kami sepakat untuk pulang. Diperjalanan hujan turun cukup deras,  alhamdulillah pukup 16.00 bis kami sampai di sekolah tercinta dengan selamat dan disusul dengan hujan yang begitu derasnya.  Sambil menanti hujan reda,  kami menghabiskan bekal yang masih tersisa.

Terimakasih kepada Kepala SDIT Wahdatul Ummah atas kesempatan rihlah kali ini.  Semoga dilain waktu ada rihlah kedua,  ketiga dan seterusnya.  Atau bahkan akan jadi agenda tahunan?  Doakan saja.

Terimakasih darikuh yang baru belajar mencoret-coret isi blog.  Semoga bermanfaat.





Friday 13 December 2019

Ulasan Cerma Sendiri

Degup jantung berdetak tak menentu, pasalnya setelah membaca salah satu cerpen berjudul "sendiri" aku akan mulai mengulas. Namun, jari jemariku mendadak lemas tatkala kumembaca penulis cerma tersebut. Nama yang tak asing bagiku. Ya, cerma hasil karya dari seorang ketua komunitas menulis One Day One Post, Wakhid Syamsudin.

Well, berbeda dengan Cerita Remaja yang biasanya berkutat pada masalah percintaan apalagi cinta segitiga, pada cerma sendiri, penulis mengusung sebuah tema tentang nilai kejujuran dan pendirian dari seorang siswa yang tergolong cerdas di kelas tersebut. Puncaknya adalah saat harus rela dijauhi teman di kelasnya,  bahkan tak memiliki satupun teman karena tak pernah mau memberikan contekan tugas maupun ulangan.

Alur : Maju. Kisahnya mengalur pelan-pelan. Pun dalam pemaparan alur rentetan kejadian sudah dialurkan dengan koherensi yang benar-benar sinkron. Tak usah diragukan lagi,  sudah lulus baca KBBI nya.  (hehehe)

Latar: mengambil settingan sebuah kelas juga sebuah warnet.

Penokohan dan perwatakan :
Luthfi: sang tokoh utama yang memiliki pendirian kokoh.  Tak goyah untuk mempertahankan pendiriannya meski harus sendiri ditengah keramaian kelas.

Septian,  Alfian dan temannya: tokoh sampingan yang begitu benci dengan Luthfi lantaran tak pernah diberi contekan.

Mas Zaini: penjaga warnet

Seorang gadis cantik yang kini membuat Luthfi, sang tokoh utama merasa tak sendiri lagi.


Sudut Pandang (POV) : Sudut pandang orang kedua yang menceritakan konflik tokoh utama.

Gaya bahasa : Gaya bahasa yang sederhana dengan pilihan kata yang sederhana pula. Sehingga mudah dipahami oleh para remaja sekaligus pembaca pemula seperti saya.

Amanat : Cerma ini berisi amanat untuk berpantang menyerah untuk sebuah kejujuran dalam belajar.


Unsur Ekstrinsik
Kesesuaian dengan tema : kisah dalam cerpen ini mengalur memaparkan tema dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami.

Kelebihan :
Cerma ini mengandung nilai-nilai kehidupan yang diperlukan di masa sekarang. Disaat para remaja usia anak sekolah menginginkan kemudahan dalam mengerjakan soal,  saling bantu meski dalam keburukan. Cerma ini mengangkat nilai etika. Tema bacaan seperti ini adalah oase bagi kehidupan zaman now.

Kekurangan :
Sepanjang membaca cerma ini,  saya tak menemukan adanya kesalahan penulisan, bahkan pilihan katanya sudah sangat baik.


Pengulas
Cerita remaja dengan judul sendiri diulas oleh Eka Adinia. Wanita berusia 29 tahun seorang penulis pemula di keluarga besar ODOP yang masuk dalam ODOP Batch 7 di kelas fiksi. Berharap dunia baca tulis mampu membuatnya jadi seorang Ibu yang produktif ditengah kesibukan.

Wednesday 11 December 2019

Ulasan Hisfic Panembahan Podo

Malam yang semakin larut, menemani jari jemariku yang tak lentik untuk menukis tantangan ke tiga di komunitas ODOP.  Tantangan kali ini membuatku sedikit kuwalahan karena harus mencari hisfic sedang aku belum terlalu faham.  Untung ada seorang teman yang menyembahkan salah satu karya hisfic yang menurutku memang ringan untuk kubaca.

Panembahan podo adalah salah satu judul hisfic karya seorang anggota odop batch 4, yang meskipun ia berkata jauh dari maksimal,  menurutku cerita didalamnya begitu menarik. Hiafic ini ditulis oleh penulis yang memiliki nama Suden Basayev untuk memenuhi tantangan pekan keenam. Cerita ini berkisah tentang sebuah ajakan dari kerajaan Kediri untuk menolak pemberontakan rakyat Kediri .

Unsur Intrinsik

A.      Tema dan Amanat
Hisfic ini menurut saya begitu sederhana,  namun penulis mampu membawakannya dengan luar biasa.

Cerita ini memberikan pesan bahwa rakyat kecil juga harus tegas.  Mau menolak yang batil dan menegakkan yang haq.

B.      Point of View
Cerita ini menggunakan sudut pandang orang keduaSudut pandang yang tepat bagiku, karena memang cerita seperti ini berdasarkan hayalan tingkat tinggi sang penulis. 

C.      Alur

Alur dalam cerita adalah alur maju.

D.      Tokoh dan Penokohan
Panembahan Podo: pemuda pemilik padepokan kentang,  yang amat tegas serta memiliki pendirian yang kuat. 

Pangeran Jayasabha: Putra mahkota Prabu Kertajaya yang angkuh, sombong serta pemarah.  Namun,  ia seorang yang penurut.  Menuruti perintah Ayahanda.

Prabu Kertajaya : Disini beliau hanya diceritakan bahwa beliau seorang raja yang memegang tampuk kekuasaan dengan kejam dan tidak adil.  Rakyat banyak yang menderita. Bahkan beliau mengaku jelmaan Dewa yang harus disembah. 

Akuwu Tumapel: seorang pemuda yang akan memimpin pemberontakan.

Beberapa cantrik dan prajurit.

E.       Latar

Latar tempat
Di padepokan kentang milik panembahan podo.  

Latar waktu
Siang hari,  hal ini dapat disimpulkan dari kalimat di awal.

"Siang yang tanpa matahari,  mendung gelap yang tak bersahabat, dipadu hembusan angin pegununggan yang menggidikkan"

F.       Gaya Bahasa
Bahasanya lugas dan mudah dimengerti.

G.     Ejaan  Bahasa Indonesia
Secara garis besar, bahasa yang digunakan oleh penulis sudah sesuai EYD, saya hampir tak menemukan kesalahan penulisan dalam cerita ini.

Namun,  tak ada manusia yang sempurna tentunya.  Ada satu kata yang typo dalam kata "lainm", yaitu seiring para cantrik lainm"

Unsur Ekstrinsik
Cerita ini memuat nilai-nilai kehidupan seperti nilai sosial dan nilai moral.

Nilai Sosial: Pembawaan yang tenang oleh sorang panembahan podo,  sikap ksatria, tegas dan memiliki pendirian patut dicontoh.  Ia tak haus akan kekuasaan serta pujian,  sehingga berani menyatakan kebenaran.

Nilai Moral: Bahwasannya,  menjadi seorang bawahan atau rakyat kecil tetap harus memiliki harga diri dan pendirian yang kuat.  

Secara keseluruhan, menurut saya sendiri hisfic ini unik dan mengandung nilai sosial yang bagus. Sehingga tak membutuhkan ketenangan saat membaca. Mengalir apa adanya.

Monday 9 December 2019

Cerpen Jansi (Januari Siloam)

Raja siang mulai menampakkan wajahnya.  Cahaya indahnya memancar ke seluruh penjuru dunia.  Pagi itu,  usai Rudi selesai menumpahkan isi hatinya di atas sajadah dalam duha, istrinya memanggil.

"Mas,  perutku mulai sakit" ucap Lena.
"Maa Syaa Allah,  nanti mau lahiran dik? " ucap rudi seraya menghampiri istrinya. 

Rudi segera mengemas perlengkapan Ibu dan calon bayinya.  Tak perlu fikir panjang,  Rudi membawa istrinya menuju Rumah Sakit Siloam. 

Degup jantung yang mulai tak terkontrol,  menghawatirkan keselamatan istri dan calon anaknya.  Ucapan doa tak henti ia lantunkan.  Tak lama kemudian,  lahirlah seorang anak berwajah tampan rupawan.
Rudi memberi nama Jansi yang merupakan singkatan dari Januari Siloam.  Ya,  nama tersebut terbesit karena anaknya *Lahir Di RS Siloam* di bulan Januari.

Sekian tahun berlalu,Jansi pun beranjak dewasa. Jansi *Sekolah Di Sekolah Pelita Harapan*. Kebetulan Sekolah Pelita Harapan tempatnya sangat strategis.
Jansi mempunyai Hobi membaca buku, Dia selalu *Membeli buku di Books and Beyond* dimana tersedia berbagai macam buku dan peralatan sekolah. 

Begitu juga jika Lena ingin belanja usai menjemput Jansi sekolah, mereka hanya perlu dua atau tiga menit sampai di Matahari dan Hypermart. 

Seperti siang itu,  terik matahari membuat dahaga menghampiri.  Setelah Rudi dan Lena menjemput Jansi,  mereka mampir *Belanja di Matahari dan Hypermart* untuk berbelanja keperluan bulanan.  Jansi juga membeli beberapa perlengkapan sekolah yang sudah mulai menua.  Usai belanja, mereka mampir di Maxx Coffee langganan Rudi.  Karena memang *Ngopi di Maxx Coffe* sangat nikmat tiada tara. 

Setelah Jansi dewasa,  Rudi dan Lena mulai memberi kepercayaan untuk memilih universitas,  memilih teman hidup dan yang lainnya kepada Jansi.  Saat itu,  Jansi memilih *Kuliah di Universitas Pelita Harapan* yang memang tak jauh dari tempat tinggalnya. 

Hari berlalu begitu cepatnya,  sampai saat Jansi ingin menikahi gadis pujaannya meski kini ia masih kuliah di semester 5. Zaheen nama wanita pujaannya. 

Zaheen wanita sholihah berjilbab yang membuat hati Jansi terpikat. Rumah Zaheen pun tak begitu jauh dari tempat tinggal Jansi.  Zaheen tinggal *Di Lippo Karawaci* 
Setelah mendapat restu serta dukungan dari masing-masing orangtua,  merekapun menikah.  Usia muda,  tak membuat mereka bermanja dengan harta dan kekayaan orangtuanya.  Mereka memulai bisnis kecil-kecilan sambil menyelesaikan kuliahnya. Sebagian pengahsialannya mereka gunakan untuk keperluan sehari-hari, dan sisanya merekapun sepakat untuk *MeNabung di Nobu Bank*

Dengan modal secukupnya, kini Jansi dan Zaheen sudah memiliki tempat tinggal.  Mereka *Tinggal di Meikarta*.

Meski disibukkan dengan urusan kuliah dan bisnis,  sesekali Jansi mengajak sang istri *Nonton di Cinemaxx*

Suatu ketika,  Zaheen tengah ulang tahun.  Jansi mengajak istrinya untuk berlibur melepas penatnya pekerjaan rumah.  Jansi mengajak Zaheen untuk *Check in di Hotel Aryaduta.* Sesampainya di hotel,  Jansi meminta Zaheen untuk masuk ke kamar terlebih dahulu dengan alasan Jansi sedang ada janji dengan teman kuliahnya sebentar saja. 

Tanpa sepengetahuan Zaheen,  Jansi pergi untuk mencarikan hadiah untuk istri tercinta.  Ia telah memesan *Grab* bike melalui gawainya. 

 Sementara itu,  sambil melepas lelah,  Zaheen menikmati secangkir teh di depan kolam seraya *Membaca sebuah berita, Berita Satu,  Jakarta Globe,  Investor Daily.*

Tak lama kemudian.
"Zaheen,  kemasi barang-barang kita"

Tiba-tiba Jansi datang dengan tergopoh-gopoh, mengagetkan Zaheen yang tengah melamun.

"Ada apa mas?  Sepertinya serius?" tanya Zaheen.
"Ayah barusan telfon. Kini Ibu *Sakit & Dirawat di Rumah Sakit Siloam* jawab Jansi sambil mengemas barangnya.


Zaheen merasa kaget, lalu ikut berkemas.

"Ibu sakit apa mas?" tanya Zaheen di perjalanan.
"kanker, sudah lama,  tapi Ibu selalu berkata *tak apa-apa*" ucap Jansi bergetar.

Selang 45 menit,  karena memang jarak hotel dan Rumah Sakit Siloam tak jauh,  Jansi dan Zaheen tiba di Siloam. 

Sesaat setelah Jansi datang,  Ayahnya (Rudi)  memeluk Jansi seraya berkata,

"sabar ya nak,  doakan Ibumu di sisi Allah"

"maksudnya???"

Jansi lemas,  ia tertunduk lesu.  Ingin menjerit namun tak kuasa.  Ia kuatkan hatinya untuk menemui jenazah sang Ibu. 

*Innalillahi wa inna ilaihi Rooji'un*

Ibunya telah kembali pada Robb Semesta Alam. 

Zaheen hanya bisa mendoakan,  serta memberi dukungan kepada suami dan mertuanya.  Lena, sang Ibu *Meninggal dan Dikubur di Pemakaman Raudhatul Jannah*

Jansi melanjutkan hidupnya bersama Zaheen,  sedangkan sang Ayah tinggal bersama Jansi dan istrinya.

*TAMAT*
🙏🙏

Saturday 7 December 2019

Jawaban Ulangan Bikin Guru Terharu

Ulangan akhir semester biasanya adalah moment yang paling mendebarkan. Selain orangtua, gurupun ikut merasakan kegelisahan yang luar biasa. 

Berbagai pertanyaan timbul dalam benak sang guru. 
"Bisakah anak-anak menjawab soal yang ada? "
"Susahkah soal yang ada?"
"Belajar nggak ya anak-anak di rumah?"

Dan masih banyak lagi pertanyaan yang muncul.  

Bagi siswa,  Penilaian Akhir Semester juga moment yang terpenting dan mendebarkan karena menentukan nilai rapornya kelak.  Namun,  ternyata tak semua siswa menganggap penting Penilaian Akhir Semester.  Ada pula sebagian siswa yang justru menjawab asal - asalan bahkan untuk essay ada pula yang tak menjawabnya.  

Seperti halnya saat ini,  Penilaian Akhir Semester telah usai.  Aku sebagai guru matematika mulai mengoreksi lembar demi lembar jawaban siswaku. 

Mataku tertuju pada satu jawaban.  Jawaban yang begitu unik menurutku.  
Meski ada beberapa jawaban yang membuatku tersipu malu,  namun satu jawaban anak ini membuatku tertegun.  

"Maaf Bu,  sebenarnya aku bisa tapi aku lupa caranya masalahnya aku tu pinternya buka di pelajaran apapun,  aku pinternya di pelajaran olahraga,  maaf ya bu".

Maa syaa Allah,  jawaban yang luar biasa.  Padahal soalnya hanya diminta menentukan luas dan keliling sebuah lingkaran.  

Tak mau kalah,  jawaban dari siswa tersebut pun aku balas.  
"Terimakasih atas kejujurannya.  Kembangkan bakatmu nak,  Bu Eka mendukungmu selalu asal untuk kebaikanmu. Yang terpenting libatkan Allah dalam setiap aktivitasmu. Pelajaran apapun yang tak kau fahami,  Berusahalah.  Berusaha dan berdoa tentunya.  Jika sudah berusaha,  namun hasil tak maksimal,  syukurilah anugrah Allah.  Semoga kelak kau jadi atlet ternama yang dapat mengharumkan Indonesia".





Contoh Soal Pecahan Kelas 6 SD

Assalamualaikum sahabat Adinia.  Kali ini,  adinia share contoh soal pecahan kelas 6 SD dalam bentuk pilihan ganda.  Pada dasarnya,  pecahan kelas 6 mengulang kelas 5, hanya saja banyak anak yang masih susah sekali menyelesaikan soal materi pecahan. 

Saya share dimulai dari petunjuk pengerjaan soal ya.  Semoga bermanfaat. 



PETUNJUK:
1. Tulislah identitas anda pada lembar jawaban yang telah disediakan
2. Bacalah soal dengan teliti sebelum menjawabnya
3. Selesaikan soal yang dianggap paling mudah terlebih dahulu
4. Periksalah pekerjaan anda sebelum diserahkan kepada pengawas

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
BERILAH TANDA SILANG (X) PADA SALAH SATU JAWABAN YANG BENAR

1. Bentuk pecahan desimal dari  13/25 adalah.... (USBN 2019)
A. 0, 52
B. 0,39
C. 0,26
D. 0,13

2. Bentuk pecahan biasa paling sederhana dari 75% adalah...
A. 1/4 
B. 1/2
C. 3/4
D. 4/5

3. 11/4   ;  35%  ; 0,75  ;  1/2  ; 0,25
Urutan pecahan diatas dari yang terkecil adalah...
A. 0,25 ;  35%  ;  1/2  ; 0,75  ; 11/4 
B. 0,25 ;  1/2  ; 0,75  ;  35%  ; 11/4 
C. 11/4   ; 0,75  ;  1/2  ;  35%  ; 0,25
D. 35%  ; 0,75  ;  1/2  ; 0,25 ; 11/4 

4. Untuk membentuk pribadi yang baik, anak-anak berlomba untuk menambah hafalan Al Qur’an. Azka berhasil menghafal 5/8 bagian dari Al Quran, Aziza berhasil menghafal 28% bagian dari Al Quran, sedangkan Salsabila berhasil menghafal 0,59 bagian dari Al Quran. Urutan nama siswa dengan hafalan dari yang paling banyak adalah.... (TO JSIT 2019)
A. Salsabila, Azka, Aziza
B. Salsabila, Aziza, Azka
C. Azka, Aziza, Salsabila
D. Azka, Salsabila, Aziza

5. 2 gros  +  4,5 lusin  = ......... buah  (USBN 2019)
A. 234
B. 243
C. 324
D. 342

6. 10 tahun + 1/4 abad =...... tahun
A. 35
B. 25
C. 20
D. 10

7. 11/4 + 25% + 0,125 =....
A. 1,25
B. 1,50
C. 1,625
D. 2,00

8. 85% - 3/5 =.....
A. 1/4
B. 3/4
C. 11/4
D. 13/4

9. Hasil dari  21/6 x 0,2 adalah...
A. 13/30
B. 12/30
C. 11/30
D. 10/30

10. Hasil dari 21/2 x 7/8 : 0,25 adalah.... (TO JSIT 2019)
A. 6 7/8
B. 6 3/10
C. 8 7/20
D. 8 3/4

11. Hasil dari 3,75 x   1/5  : 25% adalah...
A. 4
B. 3
C. 2
D. 1

12. Hasil dari 0,4  : 35% adalah...
A. 6/7
B. 7/8
C. 8/7
D. 9/8

13. Hasil dari  75 % - (0,25 + 1/5) adalah...
A. 0,50
B. 0,40
C. 0,30
D. 0,20

14. Ibu memiliki persediaan tepung sebanyak  21/2 kg. Untuk keperluan membuat kue, Ibu membeli tepung lagi sebanyak 3/4 kg. Ternyata tepungnya hanya terpakai  21/4 kg. Sisa tepung yang Ibu punya adalah....
A. 1/4 kg
B. 1/2 kg
C. 3/4 kg
D. 1  kg

15. Toko Nadia memiliki persediaan 3 1/2 lusin gamis. Pada hari Jum’at datang lagi gamis sebanyak 0,75 lusin. Dalam dua hari alhamdulillah gamis-gamis tersebut terjual 21/4 lusin. Sisa gamis yang ada di toko Nadia sebanyak.... lusin.
A. 1
B. 1 1/4
C. 2
D. 21/4


Terimakasih.
Harap tinggalkan pesan ya di kolom komentar.

Sunday 17 November 2019

Ulasan Cerpen Gorong-gorong

Gorong-gorong adalah cerita pendek (cerpen) di ngodop.com yang unik menurutku. Cerpen ditulis oleh penulis yang memiliki nama Naila Zulfa pada bulan September 2019, cerita ini berkisah tentang omelan sang ibu di hampir setiap hari karena banyaknya kecelakaan di gorong-gorong depan rumah.

Dalam cerpen “Gorong-gorong” menceritakan omelan seorang Ibu yang hampir setiap hari di dengar oleh anak serta suaminya. Omelan yang diucapkan bukan masalah perselingkuhan suaminya bukan juga masalah anak yang kurang ajar. Hanya karena salah posisi rumah saja. Ups, salah si gorong-gorong yang sudah minta dimanja.

Konon dalam cerita, gorong-gorong tersebut sudah tak layak untuk dilewati karena seringkali memakan korban. Karena rumah si Ibu dalam cerita kebetulan tepat di pengkolan tempat gorong-gorong itu berada, maka acap kali si Ibu yang senantiasa menjadi pahlawan saat kecelakaan terjadi. Sebenarnya sudah dialokasikan pembenahan gorong-gorong namun proyek tersebut mangkrak. Terhitung sepuluh bulan sejak dibuat galian, sudah lebih dari dua puluh orang terjatuh.
Yang menjadi pertanyaan, kemanakah Pak Kades? Apakah tidak peduli dengan keadaan warganya? atau pura-pura tak peduli?

Banyak dugaan bahwa dana desa dikorupsi oleh Kades tersebut. Sebenarnya Sang anak sudah kerap kali menawarkan untuk menggalang suara di tingkat pemuda untuk menanyakan kejelasan dana desa yang ada. Namun, Ibu melarangnya. Kabarnya Mbah di belakang Pak Kades sangat mumpuni. Akhirnya si anak harus bersabar ditengah omelan dan keluhan Ibunya.

Namun, tak perlu waktu yang lama, ternyata ada seseorang yang berani melaporkan Kades. Nyatanya, terdengar berita ‘Diduga Korupsi Dana Desa, Seorang Kades Ditangkap di Rumahnya’. Kabar yang sangat tak terduga, yang bisa membuat hat tersenyum lega, serasa merdeka dari omelan sang Ibu. Namun sangat disayangkan, desa yang terkenal agamis, kini tercemar gara-gara ulang seorang Kades.

Unsur Intrinsik

A.      Tema dan Amanat
Cerpen ini menurut saya sederhana, idenya muncul dari kisah nyata di kehidupan seseorang sehingga mengalir dengan pasti serta mudah dipahami.

Cerita ini memberikan pesan bahwa, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga atau bisa juga dengan pepatah sepandai-pandainya menyimpan bangkai pasti tercium juga. Sehebat apapun menyimpan rahasia tentang dana desa yang tengah di korup, ternyata terbongkar juga itikad buruk Pak Kades.

B.      Point of View
Cerita ini menggunakan sudut pandang orang pertama, terlihat dari penggunaan pronomina ‘aku’. Sudut pandang yang tepat bagiku, karena memang cerpen berdasarkan pengalaman di kehidupan nyata.

C.      Alur

Alur dalam cerita adalah alur maju

D.      Tokoh dan Penokohan
Aku : pedui pada lingkungan sekitar, namun memilih diam karena kekhawatiran sang Ibu.

Ibu: Peduli pada lingungan, cerewet, namun simpati terhadap apa yang terjadi di desanya.

Bapak: Kebapakan dan lebih mengutamakan nasehat itsrinya.

Pak Kades:  Antagonis, suka menggelapkan dana desa.

E.       Latar

Latar tempat
Di depan rumah 

Pagi hari, saat aku kebingungan mencari kunci motor, terdengar suara gedubruk di depan rumah.

Latar waktu
Siang hari, pagi hari

Siang bolong seperti ini aku harus mendengar Ibu mengomel lagi dan lagi.

F.       Gaya Bahasa
Bahasanya lugas dan mudah dimengerti.

G.     Ejaan  Bahasa Indonesia
Secara garis besar, bahasa yang digunakan oleh penulis sudah sesuai EYD, namun ada beberapa yang luput karena memang tak ada manusia yang sempurna. Dalam kalimat ‘Info ini kudengar langsung dari Ibu saat libur di hari minggu’, dalam penulisan hari minggu sebenarnya menggunakan huruf kapital pada nama hari.

Unsur Ekstrinsik
Cerita ini memuat nilai-nilai kehidupan seperti nilai agama, nilai sosial dan nilai moral.

Nilai agamis: Perilaku syirik
Ndilalah  Ibu melihta Pak Kades yang khusyuk menabur bunga di jembatan dekat rumah.

Nilai Sosial: Suka menolong
Ibu dan Bapak segera berlari ke depan. Menolong si pengendara yang ternyata salah satu sesepuh desa.

Secara keseluruhan, menurut saya sendiri cerpen ini unik dan mengandung kritik sosial yang sesuai. Sehingga tak membutuhkan ketenangan saat membaca. Mengalir apa adanya.


Teks cerpen ini diterbitkan di www.ngodop.com

Referensi:
https://plus.google.com/up/?continue=https://plus.google.com/share?url%3Dhttp://www.ngodop.com/art/38/Gorong-Gorong

Sunday 3 November 2019

Lima Langkah dari Rumah Part 5

Tak ingin seperti sinetron yang ada. Juga Deby ingin menjaga kewarasannya. Deby hanya terdiam menyaksikan pemandangan yang membuat sesak di dada.

"antarkan aku pulang!" ajak Deby.
"aku samperin ya mbak?" tanya Dion.
"enggak, antar aku pulang saja yon. Aku lelah" jawab Deby.

Akhirnya Dion mengantar Deby pulang. Sesampainya di rumah, Deby mengurung diri di kamarnya. Mau mengirim oesan singkat, tapi apa yang mau ia ketik.

"kamu dimana?" akhirnya Deby mengirimkan pesan.

"sedang ada ketemu dengan teman lama sayang" balasnya.
"dimana?" jawab Deby singkat.
"di lapangan, kenapa?"

Ah, lega hati Deby, benar, mungkin temannya. Aku enggak boleh suudzon. Dalam batin Deby.

"o begitu, hati-hati ya sayang. Laki apa perembmpuan mas?" balas Deby dengan nada pelan karena ia tak lagi maran.

"laki-laki kok sayang" jawabnya.

Oh my god, pacarku berbohong. Aku dibohongi. Deby mulai murung lagi. Sms tak dibalas, Deby kini mulai berfikir. Akankah putus saja? Deby sudah lelah di bohongi.

"maaf, kita putus" pesan yang dikirimkan Deby dengan penuh kesedihan.

Bima tak membalas pesan Deby. Deby mulai sangat kesal. Sudah tak ingin lagi bertemu dengan Beni. Ia benar-benar muak. Sakit hatinya tak kan terobati, meski masih cinta, Deby akan mulai belajar melupakannya.

Bremmm bremmmmm

Suara motor terhenti di depan rumah, di teras masih ada Dion bersama adikku yang tengah bermain gitar. Orangtuaku sedang ada acara di rumah saudara.

"mana mbakmu, Faiq?" tanya Beni usai mematikan motornya.
"ada, mbak, mbak, ada yang cari". Masuk aja mas".

Tok tok tok
"dik, apa maksud pesanmu?" tolong bukakan pintu" ucap Beni seraya mengetuk pintu kamar Deby.

Deby tak menjawab. Ia sedang menangis, marah, benci campur menjadi satu.

Tok tok tok
"tolong lah dik, kita bicara baik-baik".

Akhirnya Deby membukakan pintu. Deby di tarik keluar rumah. Di sudut rumah ada sebuah bangku kecil, cukup untuk duduk bertiga. Diajaknya Deby duduk di bangku tersebut.

"apa maksudmu? Apa salahku hingga kau putuskan aku?

"kamu barusan ketemuan sama Ita kan?" ucap Deby seraya menghapus air matanya.

Beni terkejut, dari mana ia tahu tentang Ita. Padahal, tak pernah ia ceritakan kepada siapapun perihal Ita. Rupanya, Ita pacar pertama Beni.

"mas berbohong kan? Pertama, aku kau jadikan taruhan, kedua kau bertemu dengan Ita di belakangku, ketiga kau berselingkuh, keempat kau berbohong. Itu alasanku ingin putus darimu" ucap Deby sambil menangis tersedu.

"tak kusangka, kamu sejahat itu mas sama aku. Kalau kamu enggak suka sama aku, kenapa kamu sakiti aku mas? Sekarang sudah puaskah kamu?" tanya Deby.

"da da dari mana kau tahu?" tanya Beni tertunduk lesu.

"sudah lah, aku tak ingin melihatmu lagi" ucap Deby sambil menunjukkan sms dari Ita.

"dik, kali ini percayalah. Aku memang salah, tapi akan kuputuskan Ita demi kamu" ucap Beni.

"maaf, sayang sekali aku sudah terlanjur benci" ucap Deby sambil lari ke kamarnya lagi, ia tak peduli Hp nya masih di tangan Beni.

Meski Beni memohon, Deby tak mau lagi balikan dengan Beni. Keputusannya sudah bulat.

Hari berganti hari, setelah 5 tahun berlalu. Keduanya sudah baikan, namun hanya jadi teman. Yang tadinya terfikir, pacarku lima langkah, suamiku lima langkah. Kini tak lagi terpikirkan.

Beni pun akan segera menikah dengan wanita lain. Bukan dengan Deby, bukan pula dengan Ita. Beni bertemu dengan calon istrinya ditempatnya ia bekerja.
Karena rumah Deby dan Beni berdekatan
 Deby pun diminta untuk bantu-bantu memersiapkan pernikahan sang mantan. Sakit sih iya, namun Deby tahan agar tidak ketahuan.

Acara pernikahan begitu lancar, Deby diminta menjadi pembawa acara di pernikahan Beni. Meski di sana mereka saling adu pandang, namun Deby sadar, Beni bukan miliknya lagi. Ia hanya sepenggal kisah masa lalu yang kelam.

#Tamat#

Lima Langkah dari Rumah Part 4

"apa??!"

Wajah Deby murung, serasa disambar petir. Sakit  bukan main, namun cintanya belum pudar. Dalam hati ia berkata, aku harus tanyakan kepada Beni. Sejahat itukah dia, ah menurut Deby, Beni tak sejahat yabg Dion ceritakan. Lima bulan berlalu, hubungan mereka terjalin dengan baik.

Tin tin tin.......

Pagi itu, saat Deby tengah menyapu halaman, terlihat seorang lelaki membunyikan klakson motor. Ia pandangi lelaki itu.

"mas Beni, ah betulkah itu dia?" tanyaku sambil tersipu malu.

(besok kutunggu di warung bakso jumbo depan lapangan, pukul 13.00)

Bunyi sms yang muncul di layar Hp Deby.  Hati pun berbunga-bunga tak sabar menanti hari esok.

Pertemuan mereka tak seromantis romeo dan juliet. Meski sudah lama berpisah, saat berjumpa mereka terlihat biasa saja, hanya saling senyum dan saling pandang.

"sehat mas?" tanyaku mengawali.
"alhamdulillah dik, kamu sehat juga kan. Terima amplop ini ya dik, kau saja yang simpan" Beni menyerahkan amplop berisi beberapa lembar uang.

"tapi aku bukan siapa-siapa. Tak pantas aku menerima uang ini".

"bukankah kelak kita akan menikah? Simpanlah dik, aku tak sempat membelikanmu oleh-oleh. Belilah baju dan yang lainnya.

"apakah aku hanya sebagai taruhan?" tanyaku.
"kata siapa?" ia bertanya kembali, namun wajahnya terlihat begitu gugup.
"mas, sudah banyak yang bilang sama Deby, benarkah itu?" tanyaku.
"andai aku jujur, apakah kamu akan percaya?" tanyanya.

Deby hanya menganggukkan kepala.

"sebelum aku menyatakan cinta sama kamu, adakah 2 pemuda kampung yang juga menyatakan cinta padamu?" Beni bertanya kepada Deby.

Deby diam, menatap wajah Beni denga tanda tanya yang sangat banyak. Knapa Beni bisa tahu padahal Debyvtak pernah cerita. Deby kini kembali menganggukkan kepalanya.

"ya, itulah, kita sedang bertaruh. Saat itu memang, aku tak begitu ingin berpacaran denganmu, namun, setelah aku mendekatimu rasa cinta muncul begitu saja, maka sampai kini, menurutku cintaku padamu bukan perkara taruhan. Inilah perasaanku" jelas Beni kepada Deby.

Deby tersenyum. Entah apa yang merasuki Deby hingga ia mudah luluh dan percaya kepada ucapan Beni.

Hari demi hari berlalu, saat Beni pulang Deby sering janjian untuk bertemu dengan Beni. Sampai pada suatu hari, sms masuk di Hp ku.

'jangan dekati Beni, dia milikku. Dari Ita kekasih hati Beni'

Kali ini, Deby tak perdulikan pesan tersebut. Karena bagi Deby memang suatu hubungan akan banyak sekali rintangannya. Meski Deby penasaran, ia tetap mengabaikan pesan tersebut.

Sore itu, ada sebuah tandingan sepak bola di lapangan. Tak seperti biasanya, Beni tak kunjung menghubungi Deby. Biasanya Beni selalu mengajak Deby menonton pertandingan-pertandingan yang ada di lapangan.

"mbak, ikut aku yuk" ajak Dion.
"kemana?
"nonton Bola, sama adik mbak juga kok" jawabnya.

Deby ikut saja, karena memang sedang badmood. Sesampainya di lapangan, Dion menunjuk ke satu arah.
"lihat itu mbk"

Terlihat Beni sedang duduk berdua menikmati pertandingan sepak bola dengan seorang wanita.

¤Bersambung¤

Lima Langkah dari Rumah Part 3

Memang, orangtua Deby tidak begitu menyukai Beni. Beni memang berwajah tampan, namun dia terkenal urakan dan playboy.

"aku akan merubah sikapku demi kamu" ucap Beni.

"tapi........."

"jawab jujur, kamu suka tidak sama aku?".

Kali ini, Deby tak lagi diam. Meski malu-malu ia menganggukkan kepalanya.

"lantas apa yang dikhawatirkan? jadilah pacarku" ucap Beni.

Deby pun menyetujui permintaan Beni. Mereka berpacaran dengan gaya anak SMA, berangkat sekolah bareng, kadang janjian untuk makan siang bareng meski hanya makan bakso atau mie ayam.

Saat tiba masanya kelulusan anak SMA, Beni tidak lulus ujian. Dengan raut wajah sedih, ia mengabarkan kepada Deby. Bukan malah menjauh, Deby justru memberi dukungan semangat kepada Bima untuk berjuang di paket C. Rupanya Deby tengah dimabuk asmara.

Setelah lulus, Bima bekerja di Jakarta, di sebuah rumah makan milik kakaknya. Kini kisah cinta mereka terpisah oleh jarak dan waktu. Sudah kisaran 2 bulan Deby ditinggal merantau, ia begitu menjaga kepercayaan dari Beni.

"mbak, mbak pacaran sama Beni ya?" tanya Dion ke Deby.

Dion adalah sahabat karib adik Deby. Ia juga sering bermain dengan Beni meski usia selisih 4 tahun. Rupanya kabar kami berpacaran sudah mulai terdengar oleh penduduk kampung.

"iya yon, tau dari mana kamu?" tanyaku.
"tau aja lah,,enggak penting sih. Cuman mbak, taukah mbak? Kalau mbak cuman dijadikan taruhan?" lanjut Dion.

¤Bersambung¤

Lima Langkah dari Rumah Part 2

Deby terdiam, perasaan tak menentu. Pagi itu, ia diam membisu. Suasana kembali hening tak bergeming. Suara rem motor membuyarkan kesepian pagi itu.

"Deby, mau bareng e sekolah tidak?" teman Deby menyapa.

Deby langsung lari, seraya berteriak.

"aku duluan ya mas, bye" ucap deby sambil langsung lari menaiki motor temannya.

Sepanjang jalan, Deby terus memikirkan jawaban yang tepat. Meski perasaan tengah berbunga. Namun Deby belum dibolehkan berpacaran sebelum ia lulus.

"Apakah aku backstreet aja ya?" gumam Deby.

Hari-hari berlalu begitu cepat, ia tak berani lagi berangkat bareng Beni. Ia berangkat begitu pagi, sebelum Beni datang. Langkah kaki pun dipercepat saat berangkat sekolah.

Pagi itu, saat tetes embun belum berakhir, Deby bersiap berangkat ke sekolah. Kali ini ia agak santai, karena tak mungkin Beni berangkat sepagi itu.

"ehem,,,,ternyata berabgkat jam segini to" ucap laki-laki dari balik dinding warung tempat biasa mereka menunggu angkot.

"(busyet, udah nongol aja tu orang), eh, iya mas. Kok sudah berangkat?" tanyaku kebingungan.

"jadi, apa jawabanya?" tanya Beni tiba-tiba.
"jawaban apa?" tanyaku seolah tak tahu.
"mau aku ulangi pertanyaanya?"

Deby terdiam, ia faham dengan maksud Beny. Beberapa angkot berhenti, namun Beni tolak dengan halus. Ia tetap menginginkan jawabanku saat itu.

"tapi mas, rumah kita begitu dekat. Apakah orangtua akan setuju dengan hubungan ini?" tanyaku polos.

¤Bersambung¤

Friday 1 November 2019

Lima Langkah dari Rumah

Kemilau asa di ufuk timur, menambah syahdu suasana. Tetes embun terakhir jatuh perlahan, seiring fajar menyapa dedaunan, dunia kecil bangun perlahan menyambut asa hari ini.

"Aku suka sama kamu, maukah kamu jadi pacarku?" ucap Beni kepada Deby.

Dua insan tengah berjalan kaki menuju jalan raya untuk menanti angkot yang biasa mereka tumpangi. Beni seorang siswa kelas 3, sedangkan Deby siswi kelas 1. Mereka bertetangga sangat dekat. Meski sekolah mereka berbeda arah, namun setiap pagi mereka berangkat bersama untuk menunggu angkot.


Suasana hening seketika, hanya terdengar langkah kaki mereka menuju jalan raya. Deby tak mampu berkata-kata. Disisi lain, dia bahagia mendengar ucapan Beni. Karena selama ini memang Beni lelaki dambaanya, namun ini kali pertamanya ada seorang laki-laki menyatakan cinta kepadanya. Tentu ia bingung, apa yang harus ia jawab.


Tak terasa, beberapa menit setelah mereka sampai di jalan raya. Sebuah angkot berhenti di hadapan mereka. Angkot yang akan kunaiki.

"tidak om, maaf ya" jawab Beni seraya memegang tanganku erat.

"Loh?" aku terkejut, kutatapi wajahnya. Terlihat senyum manisnya.

"jawab dulu pertanyaanku, iya atau tidak, lalu berangkatlah ke sekolah" lanjut Beni yang masih tetap memegang tanganku erat.

¤Bersambung¤


Wednesday 30 October 2019

Biografi Kak Karis (Lelaki atau Perempuankah?)

Karis Rosida adalah salah satu peserta di komunitas menulis, ODOP Batch 7. Sejak kecil ia dipanggil Karis, namun karena sering dikira lelaki maka adapula yang memanggilnya Rosida atau Kak Ros. Karis lahir di Blitar, 22 September 1987. Saat ini usianya menginjak 32 tahun.

Perempuan yang terlahir dari keluarga sederhana ini menyukai dunia wirausaha, pendidikan, sosial dan literasi. Saat ini tengah aktif dikegiatan menulis serta berbagai komunitas lainnya. Salah satunya aktif di komunitas ODOP.

Jika melihat latar belakang Karis, ia tidak memiliji jejak penukis. Bapaknya seorang wirausaha, sedang ibunya hanya Ibu Rumah Tangga biasa. Kini Karis sendiri juga menekuni dunia wirausaha. Dulu ia kuliah di Universitas Negeri Malang, Fakultas Ilmu Sosial, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, dan lulus di tahun 2010. Tak ada jejak sebagai seorang penulis bukan?.

Namun, ia pernah bermimpi untuk menjadi seorang penulis. Setelah minpi itu terkubur lama sekali, tiba-tiba kisaran setahun lalu saat aksi bersama komunitas Save Street Child Blitar ia bertemu dengan adik-adik luar biasa yang memberi
beberapa buku dan alat tulis sebagai tanda perpisahan. Kado sederhana
namun bermakna bagi perjalanan hidupnya. Seketika ia teringat dengan mimpi yang sudah terkubur lama.

Setelah hibernasi panjang dari media sosial, akhirnya ia kembali coba-coba menulis dengan mengikuti RWC ODOP,
30 Hari Bercerita selama Ramadhan yang diadakan oleh Arrahman Press, dan event nulis dari YDSF Malang.

Usai lebaran akhirnya ia mulai percaya diri untuk mengikuti kompetisi meskipun belum pernah membuat
cerpen atau puisi, intinya nekat aja.

Dari coba-coba alhamdulillah kini Karis memiliki karya meski masih dalam bentuk antologi. Beberapa karyanya antara lain, Tak Sebaik Angkasa (Buku Antologi Puisi), Titik Tempuh Terakhir, Serupa Bintang Serius, Sudut Paling Dingin (Buku Antologi Cerpen) dan satu lagi  Cara Allah Mencintai Hamba-Nya (Buku Antologi Kisah Inspiratif).

Kenapa saya menuliskan biografi Karis? Tantangan di komunitas menulis ODOP pekan terakhir begitu menyeramkan bagi saya. Menulis biografi orang yang belum kita kenal, tapi ternyata asyik juga. Ada satu lagi tantangan yang luar biasa, menulis cerbung 5 episode. Smoga Allah kuatkan aku.


Sunday 27 October 2019

Edisi Cerita Curhat

Baiklah, dipenghujung ODOP ini tantangan begitu berat. Ya, benar. Istiqomah itu susah.

Pekan ini hari-hariku dipenuhi agenda. Sejak Minggu sampai Minggu lagi. Akhirnya tugas menulis terbengkalai.

Kucoba membayar hutang yang ada, namun tetap saja susah sekali menulis 5 judul sekaligus. Apalagi banyak kerjaan lainnya.

Malam ini, malam terakhir setor tulisan di pekan ini. Dimana esok pagi tulisan akan direkap. Yang biasanya kita boleh mengirimkan telat, pekan ini berbeda. Kita harus mengumpulkan setoran kita tepat waktu.

Malam ini kuputuskan untuk membuat cerpen serta puisi. Semoga krisan yang kudapat bisa menambah kecerdasan juga.

Baiklah, besok kita akan mendengarkan pengumuman bahwa yang konaisten akan tetap berada di grup tersebut sedang yang tidak akan tereliminasi.

Hadirmu

Hadirmu membawa secercah harapan
Tubuh mungilmu, jari jemarimu yang begitu lentik menambah syukurku pada Robb ku

Hadirmu mengasah kembali kelamnya cahaya itu, hingga kembali bersinar selayak purnama pada rembulan malam.

Hadirmu membawa kesejukan meluluhkan amarah dan dendam

Menanti hadirmu hal terindah dalam hidup ini

Hadirmu saat ini sudah mampu menyinari ilhamku dan semangat baru
Hati yang dulu layu berankak mulai segar tegak
Hati yang dulu rapuh kini mulai menguat

Mencintaimu

Aku sudah mencintaimu sejak kita bertemu mata
Dirimu bagaikan penghujung malam tahun baru
Bak titik awal dan akhir dalam hidupku

Mencintaimu adalah titik awal kebahagiaan dan titik akhir pencarian

Cinta itu seperti parfum dan mengalir seperti arus
Engkau seperti hujan dan aku seperti bumi yang menanti dan menyambutmu.

Meski engkau bukan yang sempurna
Namun kau mampu membuatku utuh dalam kesempurnaah

Terima kasih suamiku
Telah menghancurkan hatiku
Akhirnya cahaya keindahan itu masuk ke relung kalbuku

Aku Bukan Ular Raksasa

"Tolong, tolong, tolong" teriak Nita seraya berlari bak ketemu dengan wewe gombel.

Nita seorang gadis belia yang kini tengah dalam masa penantian. Ia menantikan sang pujaan hati yang tak kunjung datang untuk melamarnya.

Malam ini, dia terlihat ketakutan. Ia berlari tunggang langgang mencari pertolongan.

"ada apa Nita?" tanya Pak RT sambil menenangkan Nia.

"pak, saya melihat ular raksasa sedang melintas di kampung kita" ucap Nita sambil mengatur nafasnya.

"ah, tidak mungkin Nita, itu hanya halusinasi kamu saja" jawab Pak RT.

Meski Nita berusaha menjelaskan pada Pak RT dan tetangga sekitar, tetap saja para tetangga tak ada yang mempercayainya.

Nita kembali berjalan kearah pulang. Tak berselang lama, banyak warga yang berteriak.

"ular, ular, ular raksasa" teriak warga.

Nita masih terdiam melihat beberapa warga yang berhamburan. Tiba-tiba ada yang memegang tangan Nita lalu mengajaknya untuk berlari. Saat Nita menoleh, ternyata seorang lelaki berparas tampan.

Namun, semua warga terheran. Karena yang dilihat warga, bukan lelaki tampan yang tengah menggandeng tangan Nita, tapi seekor ular raksasa yang tengah melilit Nita.

"wahai gadis cantik, tolong aku. Ikutlah denganku. Akan kuceritakan tentangku" ucap lelaki itu.

"awas Nita, hati-hati" teriak warga.

Ditengah kebingungan dan kebimbangan yang kini dialami Nia, dia mengambil keputusan untuk mwnolong lelaki tersebut. Entah kenapa, lelaki tersebut membawa Nia ke sebuah masjid. Tak satupun warga yang berani mengikuti mereka.

Sesampainya di masjid.
"wahai gadis cantik, perkenalkan. Aku Doni. Maukah kamu menolongku?"

"apa yang bisa aku tolong?" jawab Nita.

"Dulu aku seorang manusia juga sepertimu, namun, saat aku mendaki gunung aku sempat berkata kotor serta merusak alam sekitar. Sampai suatu hari aku dikutuk menjadi seekor ular raksasa. Dan aku bisa berubah menjadi manusia kembali jika seorang gadis yang memiliki hati lembut mampu mencabut sebuah sisik yang ada di leherku. Maukah kamu membantuku?" ucap lelaki itu.

"Jadi???

Belum sempat Nita berkata-kata, lelaki tersebut memotong perkataanya.

"benar, akulah ular yang ku lihat melintas di kampungmu. Jangan takut, aku tidak jahat" lanjut ular tersebut.

Akhirnya Nita menuruti permintaan sang ular untuk mengambil sisiknya. Tiba-tiba, keajaiban datang. Ular raksasa itu berubah menjadi lelaki tampan.

Sejak saat itu, Nita dan Doni saling mencintai.

Saat Doni berniat meminang Nita. Tiba-tiba Nita dikagetkan dengan suara dering jam wekkernya.

"Oh My God, selamat jalan mimpi indahku" gumam Nita.

Ternyata hanya mimpi belaka.

Saturday 26 October 2019

Hilangkan Grogi Sebelum Lomba

"Pak, pak sepertinya belok kanan deh"

Dia diam saja, sambil tetap jalan lurus. Kemudian berhenti disebuah lapangan. Dia membuka Hp, membuka Google Map. Kemudian motor kembali melaju.

"Alhamdulillah ketemu juga, itu lo bu kantornya" kata Suamiku sambil menuju ke arah kantor Bahasa Lampung.

Kami sampai di lokasi tepat pukul 06.30 pagi. Saat itu hanya ada petugas kebersihan. Kami berberes diri merapihkan pakaian yang sedikit kusut. Tak lama kemudian banyak peserta berdatangan.

Tempat untuk lomba berada di lantai 3. Arkhan dan suamiku jalan-jalan mencari kue untuk persiapan cemilan. Dan aku menuju tempat lomba.

Grogi tak terkira ketika kulihat teman-teman lainnya membawa aneka media pembelajaran. Persiapan yang sangat matang. Lalu aku? Aku hanya terdiam usai menuliskan nama dan me4ngumpul syarat lomba.

"baiklah, tenang nia, tenang" gumamku.

Akhirnya, sebelum acara dimulai. Aku berkeliling mencari teman baru. Kesana kesini serambi nge-vlog aku berkenalan dengan banyak teman dari berbagai daerah. Lumayan untuk mengurangi rasa grogiku.

Banyak juga yang asyik berselvi ria, bercengkrama, juga tak sedikit yang latihan mengajar sebelum lomba dimulai.
Sungguh pengalaman baru bagiku. Alhamdulillah kuucap syukur sudah dipertemuka dengan orang hebat di sini.

~to be continue~

Usaha Takkan Menghianati Hasil

Di sudut ruangan, seorang gadis berparas ayu tengah memikirkan sesuatu. Tubuhnya yang mungil, dengan jilbabnya yang panjang menambah ayu diwajahnya. Ia terlihat begitu cemas.

"Pak, maaf mengganggu bisa bicara sebentar?" tegurnya pada seorang bapak yang belum terlihat tua.

"Ya Nina, ada apa? Ada masalah yang serius?" tanyanya.

Nina seorang siswi SMA disebuah kota. Dia seorang yang periang, juga cekatan. Pada suatu hari, dia membaca sebuah brosur berisikan macam-macam lomba. Sedangkan di sekolahnya, kebanyakan siswanya tak berminat dengan berbagai perlombaan.

Namun, Nina begitu tertarik dengan lomba yang tertera yaitu lomba membaca puisi. Meski ia tak begitu suka dengan puisi, kini ia sedang mencoba membujuk gurunya untuk mendaftarkan temannya diajang lomba ini.

"Pak, ini ajang bergengsi. Ayo dong ikutan" bujuknya.
"Adakah yang berminat?" Pak Andi bertanya kepada Nina.

Kali ini Nina terdiam, dia berfikir keras. Siapa yang akan maju mengikuti lomba ini.

"Belum ada si pak, tapi pak?
"Kalau Nina ingin ikut, Bapak dukung saja" potong Pak Andi.

"Tapi Nina buka ahlinya di bidang puisi, nanti kalau kalah bagaimana?"
"Memang Nina pernah menang?" tukas Pak Andi.

"(Memang Nina pernah menang?). Ampun deh, benar sekali. Tak satupun lomba yang pernah kumenangkan. Tapi, jahat banget sih Pak Andi berkata seperti itu" gumam Nina.

Diam-diam Nina mendaftarkan diri ikut lomba. Dalam prosesnya, banyak teman yang dijadikan guru, banyak guru yang dijadikan tempat curhat. Sampai-sampai, Ibu di rumah pun menjadi salah satu guru bagi Nina.

Hari demi hari Nina belajar, tujuan Nina satu. Menang.

Pada hari perlombaan, tangan mulai dingin, hati mulai tak karuan, detak jantung berpacu sangat kuat. Ya, Nina sering demam panggung.

Perlombaanpun berlangsung, Maa syaa Allah, saat menaiki panggung tubuh Nina gemetar tak karuan. Namun demi satu kata yaitu Menang. Semua rasa ia abaikan. Nina lancar membacakan puisi diatas panggung.

Sampai tibalah saat pengumuman. Dewan juri mengumumkan juara 5 terlebih dahulu. Nina mendengarkan dengan penuh cemas. Sampai akhirnya.

"Yah, belum juara" ucap Nina dengan ekspresi wajah sedih.
"Apa yang akan kuceritakan di sekolah dengan teman dan guruku" gumamnya lagi

Keesokan harinya, Nina coba datang ke sekolah dengan wajah ceria. Jika ada teman yang bertanya, dia akan menjawab apa adanya. Sampailah ketika Nina berjumpa dengan Bu Sari.

"Bu aku kalah" ucapnya
"Maa syaa Allah Nina, Nina sudah hebat berani tampil di depan umum. Nak, ketika seseorang ingin mendapat penghargaan atau juara, ia harus merasakan perjuangan, sedangkan Nina? Kan Nina baru sekali berjuang, In syaa Allah dilain kesempatan Nina akan mendapat juara" ucap Bu Sari.

Nada, suara, ucapan Bu Sari begitu lembut terdengar di telinga. Nasehat yang akan ku ingat selama hidupku. Ya. Aku harus terus mencoba. Toh kegagalan adalah awal dari keberhasilan.

Setahun telah berlalu, kali ini Nina naik ke kelas 3 SMA. Alhamdulillah, riang tak terkira, Nina mendapat brosur undangan mengikuti lomba. Lomba yang sama dengan setahun lalu. Kali ini, Nina berusaha lebih keras lagi. Tak satupun hari ia lewati tanpa latihan membaca puisi. Kali ini dia berjuang dengan sunggug-sungguh.

Nina berlatih sampai hari perlombaan pun tiba.

"Bu Sari, Alhamdulillah aku bisa mendapat juara 2" ucap Nina sambil memeluk Bu Sari.

Ya, Nina meraih juara 2 diajang lomba membaca puisi. Meski hanya juara 2, tapi Nina sangat bahagia.

"Alhamdulillah, selamat ya Nina, tuh kan, apa Ibu bilang. Memang ya, usaha tak kan menghianati hasil" ucap Bu Sari kembali.

Kini, Nina selalu bersemangat untuk meraih apa yang ia inginkan.

Thursday 24 October 2019

Cerita Semalam Sebelum Lomba

"Niatnya mencari ilmu dan pengalaman bu" ucap suamiku.

Ah, dia selalu membuat hatiku luluh. Selalu mendukungku disetiap kegiatanku.
Pada hari Senin, sepulang sekolah aku berkemas. tentu baju ganti untuk anakku paling banyak kubawa. Tak lupa, aku mengemas perlengkapan untuk media mengajarku. meski tradisional, tak apalah.

Rencananya kami akan menginap di rumah paman, yang tinggal di Tigeneneng. Pukul 17.00 motor kami melaju dengan perlahan dan santai. Disepanjang jalan, Arkhan, anakku tak mau duduk. Dia asyik melihat pemandangan sekitar.

Tepat saat adzan berkumandang, kami sampai di rumah paman. Di sana kami disambut dengan begitu hangat. Setelah sholat magrib, kami bercengkerama di ruang tamu sambil sesekali menikmati jagung rebus.

"warung di sebelah mana ya man?" tanyaku.
"maju sedikit, belok ke kiri sampai kok"

Pempers Arkhan habis, jadi kami segera mencari ke warung terdekat. Saat mencari warung, ternyata kami berjumpa dengan tetangga kampung yang menikah dengan orang Tigeneneng. Akhirnya kita mampir sebentar untuk sekedar basa-basi.

Sepulang mencari pempers, kamipun pulang. Sampai rumah paman, kami membakar jagung di teras depan. Suasana malam yang terang bulan menambah kehangatan. Sampai akhirnya Arkhan mulai meringik minta tidur.

Setelah Arkhan tertidur aku dan suami mempersiapkan perlengkapan yang esok akan di bawa. Aku menyetrika, suamiku menyelesaikan bahan ajarku. Alhamdulillah, pukul 22.00 semuanya selesai. Kami bersegera untuk tidur agar esok tak kesiangan.

~to be continue~

Monday 21 October 2019

Menemukan Metode, Tapi Pesimis

Sejak kuketik namaku tanda aku mengikuti lomba mengajar Guru SD Se-Provinsi Lampung, hari-hari begitu cepat berlalu. Bahkan aku yang sehari-hari mengajar matematika, muli bingung menentukan materi yang akan kuikutsertakan dalam lomba.

Googling sana sini, buka youtub dimanapun berada mencari secercah solusi. Ah, aku menyesal ikut daftar lomba. Tak satupun materi kukuasai.

Beberapa hari berlalu, tak ada ide melintas di otakku. Sampai akhirnya, aku menemukan akun youtub, disana ada seorang sedang mengajar bangun ruang. Banyak media namun tak ada permainannya.

Oke, googling lagi. Alhamdulillah menemukan semuah metode mengajar yaitu Make a match, akhirnya ide melintas juga. Semangat kembali membara.

Mulai kubuat satu per satu media pembelajaran. Sederhana, bahkan jelek menurutku. Tapi, ini bentuk ikhtiarku.

Beberapa malam, kucoba belajar mengajar dengan durasi 10 menit. Susah, susah sekali. Aku yang suka sekali bicara, harus bicara terbatasi waktu. Selalu saja lebih dari 10 menit. Tapi aku terus mencoba.

Keesokan harinya,
"Mbak Diana ya? Emmm beliau S2 loh" ucap Mbak Latifah padaku.

Aku, menanyakan perihal salah satu peserta dari SD yang ternama di kotaku. Maa syaa Allah, beliau lemah lembut, S2, kreatif serta cantik. Apalah aku ini yang tak ada apa-apanya dengan peserta lain.

"Lalu aku harus bagaimana mbak? Aku minder" ucapku lirih.


~to be continue~




Sunday 20 October 2019

Entah Apa yang Merasukiku

Kuabaikan support dari suami, karena aku faham kemampuanku berbahasa Indonesia. Apalagi, ketika dulu aku sekolah, tak pernah aku mendapat nilai bagus pada pelajaran tersebut.

Aku mulai membujuk beberapa guru yang ada di sekolahku. Aku kirimkan info terkait lomba yang ada. Bahkan, tak segan-segan aku mendatangi beberapa guru untuk memberi support agar ada yang ikut lomba tersebut.

Namun, usahaku gagal. Tak satupun guru yang minat mengikuti lomba tersebut.

"Kenapa sih pada nggak berminat? Bukankah kalau ada info lomba untuk anak didik, mereka selalu support, mencari anak didik yang siap ikut lomba?" gumamku.

Merasa gagal membujuk guru di sekolahku, aku mendatangi kepala sekolah.

"Pak, ayolah, bapak kirim saja seorang guru untuk ikutan lomba. Ajang bergengsi nih. Peluangnya ada dua, jikapun tidak menang, kita akan tahu kemampuan teman-teman diluar sana" ucapku tak ada jeda.
"ya sudah, Bu Eka saja yang ikut". Jawabnya singkat.

"Tapi ini pelajaran bahasa pak, eka mana bisa? Nanti kalau kalah bagaimana?" jawabku.

"la emang Bu Eka pernah menang? Jawab beliau sekenanya.

Ah betul juga, kapan aku menang ikut lomba, eh tapi, memang kapan aku pernah ikut lomba? Ah sudah lah. Aku tak mampu untuk membuju semua orang, lepaskan saja lomba ini.

Beberapa hari kufikirkan matang-matang kalimat suami, kalimat kepala sekolah, dan kata hatiku.

"Assalamualaikum, Bapak Ibu, dikarenakan peserta baru 23 sedangkan kami menyediakan quota 40 peserta, maka dipersilahkan untuk satu sekolah yang ingin mengirimkan dua peserta"

Pesan singkat mendarat di layar Hp. Beberapa sekolah lalu mengirimkan utusannya.

Entah apa yang merasukiku, aku ketik namaku di daftar lomba tersebut. Tanpa pikir panjang, kukirimkan pesan tanda aku mendaftar mengikuti lomba mengajar tingkat SD Se-Provinsi Lampung.

~To be continue~
"

Bahasa Indonesia, Apa Aku Bisa?

Klunting...
Saat Hp berbunyi pertanda ada pesan WA masuk, segera kubuka. 

'Info Lomba Mengajar'

Ada lomba mengajar tingkat SD yang diselenggarakan oleh Kantor Bahasa Lampung. Sepertinya asyik kuikuti.

"Hemmm, mana kriteria lombanya ya?" gumamku.

Andai kutanyakan pada kepala sekolah, sepertinya beliau tidak tahu menahu perihal lomba ini. Akhirnya aku tanyakan pada salah satu panitia yang nomornya tercantum di pesan. 

"Assalamualaikum kak, perkenalkan saya eka adinia, mohon maaf mau bertanya perihal lomba mengajar, ketentuannya sperti apa ya? Atau ada linknya?" tanyaku nerocos.

"Wa'alaikumsalam, nanti saya informasikan ya, Mbak" jawabnya singkat.

Setelah bercakap basa basi sebentar, aku menanti info selanjutnya yang katanya akan segera dikirim. 

Aku, seorang guru di sebuah Sekolah Dasar Swasta mengampu mata pelajaran Matematika. Aku suka belajar matematika dengan anak-anak meski nilai mereka jauh dibawah rata-rata. 

Aku mulai memilah-milah, materi apa yang akan aku ikutsertakan dalam lomba. Setelah beberapa waktu, aku memilih materi bangun ruang. 

Klunting,,
Hp bergdering tanda ada pesan WA masuk. 

"Emm, grup lomba mengajar. Kan aku belum daftar" gumamku sendiri.

Pesan WA dari salah satu panitia, memohon memasukkan nomor beberapa calon peserta lomba. Tak berselang lama, beliau mengirimkan juknisnya. 

"Innalillahi, Pelajaran Bahasa Indonesia?, yah, gagal deh ikutan" ucapku lirih.

Aku semakin ciut, tak berani lagi aku turut membalas pesan di grup lomba tersebut. Kuberanikan mengirim pesan tanda kecewaku.

"Assalamualaikum kak, ternyata lombanya khusus untuk pelajaran Bahasa Indonesia to? Maaf, saya mundur" 

"Bukankah guru kelas bisa semua mata pelajaran, Bu? Tidak apa-apa Bu, ikut saja, bisa mengambil tema yang dekat dengan mapel Bahasa Indonesia. Misalnya pantun atau membaca berita" jawab beliau meyakinkanku.

"Selain  substansi, kemampuan guru dalam berbahaaa Indonesia juga menjadi penilaian, Bu" lanjutnya meyakinkanku.

Namun, aku sudah patah semangat. Hanya kubalas dengan ucapan terimakasih. 

Sesampainya di rumah, kutunjukkan pesan singkat serta obrolan grup. Beliaupun berkomentar 

"Memang kenapa kalau Bahasa Indonesia? Ikut saja tidak mengapa, besok saat lomba, bapak sendiri yang akan antar Ibu" support dari sang suami.

~To be continue~

Friday 18 October 2019

Taman Merdeka Kota Metro, Tempat Bersantai

Mencari tempat santai nan sejuk di kota Metro?
Cobalah mengunjungi Taman Merdeka Kota Metro, Lampung. Selain sejuk, letak Taman Kota Metro sangat strategis.

Taman Merdeka Kota Metro bersebelahan langsung dengan Masjid Raya Kota Metro : masjid Taqwa Kota Metro. Sehingga pengunjung tak perlu jauh mencari tempat untuk sholat saat adzan berkumandang.   Selain itu juga, Taman Merdeka Kota Metro bersebalahan dengan pusat memerintahan kota Metro yaitu sebelah selatan dengan Rumah dinas Ketua DPRD Kota Metro, sebelah timur bersebelahan dengan Rumah Sakit Ahmad Yani, Bank Lampung, Kodim dan rumah sakit bersalin. Sedangkan sebelah utara berdekatan dengan kantor Bappeda dan Polres Kota Metro.

Ada yang unik di sekeliling Taman, kita bisa melihat plank Asmaul Husna. Sehingga ketika berada di taman ini sangat terasa dekat dengan rasa Religiusnya. Apalagi Masjid terbesar di Kota Metro ini berada pas di depan taman. Sehingga selain untuk tempat santai, Taman Kota Metro bisa dijadikan tempat belajar bagi anak-anak untuk menghafal Asmaul Husna.

Di Taman Merdeka Kota metro, tempatnya begitu asri. Pepohonan begitu menghijau. Selain itu, ada beberapa spot foto yang tak kalah indahnya. Pengunjung disediakan tempat duduk untuk bersantai ria. Dibeberapa tempat juga disediakan WC umum dimana pintu masuknya dibuat patung gajah dan hewan lainnya.

Selain untuk bersantai, dan belajar di Taman ini disediakan jalur tracking untuk jalan kak sehingga cocok untuk jalan santai atau jogging.

Kebersihan Taman pun begitu diperhatikan. Kotak sampah disediakan dibeberapa sudut taman. Meskipun begitu, masih ada beberapa oknum yang kurang bertanggung jawab karena membuang sampah sembarangan serta tak segan mencoret - coret fasilitas yang ada. PR besar bagi kita semua untuk bertanggung jawab menjaga dan merawat lingkungan sekitar.


Wednesday 16 October 2019

Belajar Berbicara

Assalamualaikum wr wb
Kembali lagi bersama aku, si pemula dalam menulis. Aku memang tak pandai menulis, juga tak begitu suka baca. Tapi kalau bicara, aku orang yang paling suka berbicara.

"nggak ngomong mulutnya kecut" (kalau tidak bicara mulutnya asam)

Kalimat yang sering kulontarkan jika ada yang bilang,
"ngomong terus apa nggak capek lo".

Tapi memang ya, kalau sudah bicara sepertinya kosa kata begitu numpuk di kepala yang ingin kukeluarkan semuanya.  Sampai-sampai nuansa pagi saat di sekolah begitu kurang bagiku. Jatah 15 menit selalu kelebihan sampai 25 bahkan 30 menit.
Maafkan aku.

Nah, ada info lomba mengajar nih. Meski jauh ternyata suamiku support. Nanti kuceritakan di sesi selanjutnya in syaa Allah.

Dalam info yang tertera, kita diberi kesempatan untuk mengajar maksimal hanya 10 menit. Ya Allah, dapat apaan tuh cuman 10 menit saja. Biasanya aku bicara lebih dari 30 menit dan ini dibatasi hanya 10 menit. Auto belajar bicara deh akunya.

Malam ini, sampai suaraku radak serak karena bolak-balik belajar bicara. Tetap saja aku melebihi batas waktu. Sudah kubuat range-range apa saja yang akan aku ucapkan, tapi tetap saja tidak bisa kurang atau pas 10 menit.
Apakah teman - teman ada sara

Mulutmu Harimaumu

"Mulutmu Harimaumu". Tentu ungkapan ini tak asing lagi bagi kita semua.

Sebenarnya saya begitu ngeri untuk menulis kali ini. Karena tulisan kita di zaman ini bisa jadi uang, tapi bisa juga jadi penjara. Jika tak hati-hati dalam menulis, bisa jadi tulisan kita membunuh diri sendiri.

Akhir-akhir ini sedang ramainya berita pencopotan jabatan akibat cuitan istri pada seorang pejabat. Yes, hanya sebatas cuitan lewat media sosial. Pun setelah kubaca berulang, tak ada yang salah dengan cuitan tersebut. Namun efeknya luar biasa, sampai dicopot jabatannya.

Oke, disini saya menulis bukan dipihak oposisi maupun dipihak satunya. Saya hanya ingin meluruskan, bahwasanya perkataan kita semua dipertanggungjawabkan dihadapan Allah. Apakah kita tak punya rasa takut sedikitpun??

Atau hati kita yang telah mati?
Entahlah.

Beberapa bulan yang lalu, saat sidang yang katanya ada kecurangan pada proses pemilu, menurut MK semua alat bukti yang berasal dari medsos tidak bisa dijadikan alat bukti hukum, kenapa lantas istri Dandim diperkarakan? Bukankah alat bukti yang dimiliki istri Dandim pun hanya dari medsos?

Ini akan menjadi pertanyaan yang sngat fenonenal saat ini.
Ada apa dengan negriku?
Ada apa dengan para pejabat?
Ada apa dengan para wakil rakyat?

Entahlah, tetap Allah hakim yang seadil-adilnya. Semoga kita terhindar dari siksaNya.

Kemah Wilayah 2 di Way Kambas Lampung

Hari ini, Rabu 16 Oktober 2019 suasana sekolah tampak berbeda.
Ya, sebanyak 20 siswa dan siswi SDIT Wahdatul Ummah Metro diberi amanah untuk mengikuti kemah wilayah yang diadakan di Way Kambas Lampung.

Beberapa siswapun ada yang begitu sedih menyaksikan keberangkatan kemah wilayah kali ini. Ada yang sedih karena belum terpilih untuk mewakili sekolah. Ada yang sedih karena sudah pernah ikut kemah nasional sehingga harus berbagi pengalaman kepada teman yang belum pernah ikut kemah nasional. Ada pula yang sedih karena sudah terpilih, namun tak mendapatkan izin dari orangtuanya.

Meskipun begitu, doa mereka tetap yang terbaik untuk teman-temannya. Pelukan hangatpun saling nendarat, tentu kepada sesama mahrom.

Para wali murid yang anak-anaknya terpilih mewakili sekolah, tampak bahagia melepas kepergian ananda meski sesekali air mata membasahi pipi.
Bagaimana tidak, kurang lebih 4 hari 3 malam mereka takkan berjumpa dengan sang buah hati.

Pukul 07.00 bus berwarna orange memasuki gerbang sekolah kami. Hati anak-anak sudah semakin tak karuan, bahagia iya, sedihpun dikit. Hehehe
Halaman sekolah belum begitu ramai, karena siswa lain sedang melaksanakan sholat duha bersama. Tampak beberapa guru membantu menaikkan barang bawaan anak-anak. Senyum simpul yang terlihat diwajah mereka, mengisyaratkan kebahagiaan yang begitu mendalam.

Pukul 08.00 semua perlengkapan sudah masuk kedalam bus. Anak-anak mendapat pengarahan dan energizer dari Bapak Sarifudin selaku kepala SDIT Wahdatul Ummah.

Usai diberi pengarahan, anak-anak mulai memasuki bus. Sebelum memasuki bus, anak-anak berpamitan kepada ayah bundanya, pelukan hangat kembali mereka dapatkan. Pun diujung barisan para walimurid, tampak beberapa teman ingin memeluk, tanda sayang serta bahagia mengantar kepergian rombongan untuk berjuang dimedan kemah.

Bus perlahan melaju meninggalkan sekolah kami tercinta. Banyak tangan yang melambai-lambai diiringi riuhnya suasana halaman pagi ini. Alhandulillah pukul 09.30 kami mendapat kabar bus sudah sampai di lokasi perkemahan. Semoga kemwil berjalan dengan lancar, anak-anak serta pembina diberi kesehatan. Aamiin

Sunday 13 October 2019

Tidur Siang

"Pulang nak, waktunya tidur siang!".

Ya, pasti diantara kalian dulu sering mendengar panggilan seperti itu. Sama. Akupun juga. Tak jarang, dulu aku pura-pura tidak mendengar panggilan mamak. Sampai-sampain mamak mendatangiku, menyeretku, tanpa bertanya apakah aku ngantuk?

Bagi anak-anak, tidur siang adalah kegiatan yang menyebalkan. Pasalnya mereka sedang asyik bermain dengan temannya, tapi harus pulang karna dipanggil orangtuanya untuk tidur siang.

Sama.
Akupun dulu seperti itu. Masih begitu asyik bermain petak umpat, gobak sodor, gundu, bermain karet dan masih banyak yang lainnya, namun suara mamak membuyarkan permainanku. Akhirnya aku dan teman-teman harus berpisah hanya karna tidur siang.

Namun, setelah dewasa kegiatan tidur siang begitu dinanti-nanti. Tapi apa daya, pekerjaan demi pekerjaan menanti, anakpun menanti untuk diurus. Meski punya balita, saat sang balita tidur siang pikiran sang emak melayang ingin nyetrika, ingin nyuci, ingin beberes dan banyak pekerjaan lainnya yang ingin segera diselesaikan. Akhirnya tidur siang hanya sekedar mimpi tang tak kunjung jadi nyata.

Akan tetapi, sepertinya di zaman yang serba modern ini sudah jarang sekali yang namanya tidur siang. Bagaimana tidak, kurikulum yang ada anak sekolah banyak yang full day bahkan tak jarang yang mondok sehingga aktivitas tidur siang tak lagi banyak yang melakukan. Padahal kita tahu, tidur siang kaya akan manfaat. Entahlah.

Saturday 12 October 2019

Menjadi Youtubers

Apakah kamu ingin menjadi seorang youtuber? Menjadi seorang youtuber tidak segampang yang kita pikirkan.

Jika yang kita lihat Ria Ricis atau Atta Halilintar, kita bakal ngiler diawal. Karena pendapatan yang dia mikiki dari nge-youtub sudah puluhan juta. Belum lagi dari ngendors. 

Aku pernah mencoba menggali informasi tentang youtube. Bagaimana agar kita mendapatkan uang dari youtube dan lain sebagainya. 

Untuk mendapatkan uang dari youtube kita harus melalui berbagai rintangan. Diantaranya kita harus mencapai 1000 subscriber dan 4000 jam tayang. 

Wow...

Saat aku mencoba membuat chanel, maa syaa Allah. Tak mudah. Sungguh. Tak semudah yang kita bayangkan. Untuk mendapat 1 subscriber kita harus promosikan sana sini chanel kita. Promo di dunia nyata maupun di media sosial. Tapi, minat para penonton untuk menekan tombol subscribe itu sedikit. Apalagi jika konten yang kita buat tidak menarik. Pasti tombol subscribe tak akan disentuh. 

Ini baru tantangan 1000 subscriber, bagaimana kalau nanti sudah mencapai 1000 subscribe? . Tentu tantangannya lebih susah, yaitu 4000 jam tayang. 
Boro-boro 4000 jam tayang, ada yang nonton saja sudah alhamdulillah bukan?.

Maka, untuk menjadi seorang youtubers jika kita bukan orang terkenal atau bukan artis. Kita harus sabar dan pelan-pelan. Memulai dari nol itu asyik. Meskipun ada cara untuk mendapatkan subscriber banyak, yaitu dengan membeli akun. Namun yakinlah, sesuatu yang dibangun dari awal akan menuai senyum dikemudian hari. 

Terimakasih, jangan lupa mampir ke chanel youtube ku "Eka Adinia"

Cuitan Ijazah

"Bu Eka, kapan sidiq jari?".
"Bu Eka, ijazah kapan bisa diambil?".

Beberapa pertanyaan seringkali menyapa akhir-akhir ini.

Apakah kamu mengalami hal yang sama?
Ya, menjadi seorang wali kelas VI itu tidaklah mudah. Bukan hanya ketika menghadapi anak-anak yang kuar biasa saat di kelas. Namun di masa akhir perjumpaan dengan merekapun kita masih terlibat.

Saat menjadi wali kelas VI masalah begitu kompleks, dari masalah anak-anak yang sudah mulai puber, atau anak-anak yang sudah mulai berkelahi antar teman, belum lagi masalah sepatu hilang pun menjadi tanggungan wali kelas.

Belum lagi jika ada anak yang memang tidak suka belajar, pun dari kelas bawah sudah minim nilainya namun orangtua berharap nilai maksimal saat ujian. Ya, tentu wali kelas tersebut pusing bukan main.

Menjelang ujian, kerepotan sana sini pastinya. Memikirkan strategi agar anak-anak mudah mengerjakan ujian. Mencocokan data anak dengan KK atau akte. Belum lagi jika ada akte yang tak sinkron dengan KK. Maa syaa Allah.

Kalau di SD tempat kumengabdi, menjelang kelulusan wali kelas mendapat tugas tambahan yaitu nguprak-nguprak anak untuk setoran ujian 2 juz nya.

Alhamdulillah, ucapan syukur tak henti terucap saat mendengar anak-anak diterima di SMP pilihannya.

Nah, padahal sudah berganti jabatan. Tak lagi menjadi wali kelasnya. Namun masih saja pekerjaan menanti.

Apa itu?
Menjawab pertanyaan dari wali murid terkait ijazah.
Aku pernah punya teman yang memang tulisannya begitu bagus. Sehingga beliau pernah menerima job menulis ijazah.
Apa kata beliau?

"Dalam sehari aku hanya mampu menulis 2 lembar ijazah".

What???
Ternyata untuk menulis ijazah butuh ketelitian tingkat akut. Pelan-pelan dan konsentrasi tentunya.
Maka, harapanku sih para wali murid memahami akan keterlambatan penulisan ijazah.

Ah sudah lah. Cuitan unek-unek pribadi.

Menjadi Penulis Tidaklah Mudah

Kukira menjadi penulis itu mudah, apalagi hanya sekedar menjadi bloger.

Ah ternyata tidak.

Menjadi penulis yang profesional tidaklah mudah. Kita harus memperkaya kosa kata, memperbanyak baca dan literasi lainnya. Nyatanya???? Aku belum bisa gila baca.

Akhirnya menulis bagiku menjadi rutinitas saja. Meski intip-intip materi yang selalu muncul per minggu, namum untuk mengaplikasikannya susah sekali.

Pernah ada materi puisi, setelah baca berkali-kali. Ah, puisi sangatlah susah. Sudah kucoba untuk membuka mindset  bahwa puisi mudah, namun tetap saja. Merangkai katanya begitu susah. Mungkin karna aku bukan pujangga seperti lagunya stinki kalau tak salah.

Pernah pula ada tantangan mengubah ending cerita rakyat yang ada. Berimajinasi begitu susah bagiku. Maa syaa Allah.
Kini kusadar, para penulis diluar sana begitu hebat hingga mampu menciptakan buku karya pribadi. Adapula yang masih memiliki karya analogi, tapi bagiku mereka tetap keren.

Semoga aku tetap konsisten menulis meski habya sebatas kisah tak berguna.
Goresan tinta yang kan selalu mengingatkanku pada kisah yang tlah lalu.

Hujan Kunanti

Diujung musim yang menyisakan
Bukit- bukit tak lagi menghijau
Angin menggiring, debu- debu melukis
Kering kerontang dedaun ranting berderit
Menanti tetesan air mata langit menderau

Kemana hujan yang ku rindu?

Mungkinkah kau enggan menemui mereka?
Mereka yang menyukaimu dalam kata
Nyatanya tidak

Mereka tidak benar-benar menanti hujan
Mereka hanya mencari sensasi atau hanya sedang menjual romantisme

Nyatanya, saat hujan turun
Mereka berlindung dibawah payung
Di bawah atap

Bahkan ada dari mereka memaki hujan yang tak kunjung reda
Memaki hujan yang membasahi bajunya
Memaki hujan karna menghambat pekerjaannya

Kita tak kan mengerti hujan

Meski begitu
Tetap kunanti kehadiranmu
Walau turunnya rinai kecil
Mereka senang akan harum hujanmu
Membawa kesejukan riang dalam kalbu

Tuesday 8 October 2019

Bedah Tulisan

Bagaimana perasaanmu, jika tulisan yang kamu buat dibaca oranglain? Apalagi sampai meninggalkan jejak di kolom komentar? Pasti bahagia kan?
Begitu juga dengan aku. Dulu sekali, awal membuat blog kok komentar, disinggahi orang pun tidak.

Tapi, semenjak ikut ODOP maa syaa Allah, beberapa tulisanku sempat dibaca oleh teman-teman. Tak jarang mereka meninggalkan jejak komentar. Selalu yang kutunggu-tunggu krisan nya alias kritik dan saran dari teman-teman.

Tapi apa daya, entah mereka tak mau menyakitiku dengan komentarnya atau enggan berkomentar saja. Kebanyakan komemtarnya 'tulisannya bagus', 'keren', dan masih banyak yang lainnya. Meskipun ada beberapa yang memberi masukan.

Sampai suatu hari aku mendapat giliran untuk dibedah tulisaanya. Senang bukan main, rasanya semua judul ingin kuberikan di grup agar mendapat krisan semua. Namun apa daya, aku hanya boleh memberikan satu link tulisan.

Beberapa hari lalu, kami mendapat materi tentang puisi. Meski sejak dulu aku tak pandai merangkai kata untuk menjadi sebuah puisi, namun aku ingin mencoba. Mencoba membuat puisi berjudul 'Untukmu Imamku'. Alhamdulillah baru tiga komentar namun aku sudah sangat suka.  Beberapa komentar tersebut antara lain,

"dien seharusnya huruf besar" ujar Mbak Linda.

"Aku bingung mau kritik puisi, cuma ya secara awam dibacanya kurang enak, nge gijlug (apa ya bahasa Indonesianya?)" kata Mbak Maftuha.

Nah, aku suka nih sama Mbak Maftuha. Jujur banget. Tapi Mbk Linda tak kalah keren, karena aku diberi kalimat contohnya langsung,

"Maksud mbak nya mungkin diksinya di perkaya lagi. Cari di online kata kata klasik seperti kata mas fadhil lalu di kait kaitkan. Misalnya",

Seismograf iman menandakan getaran yang tak biasa
Menginjaki usia yang semakin merana
Seperti wanita biasa
Inginku punya imam yang membawaku ke surgaNya

Sukanya di ODOP tuh kita dapat banyak materi, belajar dan terus belajar.

Baiklah, terimakasih untuk kakak-kakak, dan semua teman untuk dukungannya. Harapannya aku bisa lebih meningkatkan minat baca agar kosakata yang kumiliki banyak.


Monday 7 October 2019

Rayakan Ulangtahun Berujung Maut

Sejatinya ulang tahun adalah berkurangnya berbagai kenikmatan yang kita peroleh dan semakin dekatnya kita dengan kematian, tapi beberapa orang justru merayakannya dengan pesta meriah. Tak jarang anak usia SD, SMP, SMA bahkan para mahasiswa membuat prank yang membahayakan.

Seperti yang tengah viral, dua mahasiswa UIN meninggal di embung ketika rayakan ulangtahun. Ada lagi kebiasaan ngerjain temannya yang sedang ulang tahun dengan mengikatnya, menyiramnya bahkan parahnya lagi dilempari dengan telur busuk. Sampai, sempat ada yang viral juga bahwa ada seorang siswa yang sedang dikerjain dengan diceplokin telur busuk, alhasil telur busuk tersebut mengenai matanya sehingga mengalami kebutaan. Hal ini dikarenakan bakteri telur busuk masuk ke kornea mata, sehingga kornea tak lagi bekerja.

Tak perlu merayakan ulangtahun dengan kegiatan yang unfaedah. Sikap yang seharusnya dilakukan saat ulang tahun adalah bersikap muhasabah atau introspeksi diri.

Jadikanlah hari ulang tahun sebagai hari untuk merenungi segala kesalahan atau dosa besar  yang pernah kita buat setahun atau beberapa tahun yang lalu. Sebagaimana firman Allah SWT: “

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang yang beriman dan orang-orang yang yang mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat dan menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Q.S. Al Ashr: 1-3)

Harapannya, setelah banyak kejadian yang tidak diinginkan. Semakin banyak dari kita yang belajar dari kesalahan. Serta mengambil hikmah dari setiap kejadian.

Sunday 6 October 2019

Saturday 5 October 2019

Untukmu Imamku

Kala usia kian bertambah
Terlintas tanya dalam hati
Siapakah yang Allah pilihkan
Tuk genapkan separuh dien ini

Meski kupercaya akan janji-Nya
Meski janji-Nya tak tersirat
Bahkan tak terikat
Tetap kubisikkan namamu dalam alunan doa

Sampai tiba waktunya
Dia yang mencintaiku
Dan semua kekuranganku
Menjabat erat tangan waliku
Tanda kesiapannya menanggung dosaku

Untukmu Imamku
Kuserahkan segala cintaku
Kuberikan kesetiaanku
Berdua memadu janji satu
Menuju cinta yang abadi
Cinta pada Robb semesta alam

Sambut cintaku
Sambut kesetiaanku
Juga sambut kekuranganku
Dengan keikhlasanmu

Semoga Allah membimbing kita
Menjadikan cinta kita abadi
Sampai di syurg-Nya nanti

RASUL PENYANYANG (By Afif)

Sumber : Muhammad Teladanku   (Tugas menceritakan kembali isi bacaan teks non fiksi) T eman-teman Rasulullah S.A.W sangat tidak menyukai ...