Assalamualaikum Smart Mom's. Bagi kita, Mamah muda yang setiap harinya bekerja di luar rumah. Pernahkah pagimu selalu terburu-buru? Atau bahkan sering?
Baik, disini akan kuberi tips, bagaimana cara agar pagimu pagiku dan pagi kita semua tetap santuy, slow seperti judul lagu "selow aja".
Aku buat tips ini karena aku pernah mengalami pagi yang begitu buruk menurutku. Aku yang dulu segala sesuatunya disiapkan oleh Ibu, kini harus belajar mandiri mengurus suami dan anak.
Baiklah, berikut tips agar pagi kita tetap santuy.
1. Mencuci Baju di Sore Hari
Baik Smart Mom's mencuci baju salah satu pekerjaan yang sebenarnya tidak menyita waktu banyak jika kita memiliki mesin cuci. Bahkan jika dikerjakan pagi haripun masih bisa disambi memegang pekerjaan lain. Tapi mencu i di sore hari akan sangat membantu pekerjaan pagi kita. Jangan lupa, setelah selesai mencuci dan mengeringkan pakaian, segera hanger cucian kita meski di dalam rumah. Jadi, esok pagi tinggal memindahkan keluar rumah.
2. Cuci perlengkapan dapur malam hari
Smart Mom's, setelah makan malam selesai segeralah mencuci semua perlengkapan dapur. Dari piring, mangkuk, gelas sampai wajan dan panci. Usahakan dapur sudah dalam keadaan bersih kembali.
3. Siapkan sayuran sejak malam hari
Baik Smart Mom's, biasanya ba'da sholat isya aku mengajak suami untuk belanja sayuran yang akan dimasak esok pagi. Jadi saat malam hari, kota sudah menyiapkan sayuran apa saja yang akan dimasak untuk sarapan, juga untuk MPASI bayi kita.
4. Managemen waktu pagi hari
Ini nih yang agak susah dikerjakan. Namun jika management waktu kita pas, in syaa Allah pagi kita akan santai. Contoh, saat akan mulai memasak kita dahulukan MPASI, sambil menanti rebusan MPASI empuk kita bisa menyiapkan sayuran untuk sarapan. Atau bisa juga memindahkan jemuran ke luar rumah dan lain sebagainya.
Itulah beberapa tips yang bisa dilakukan agar pagi kita tetap santai. Selamat mencoba. Jika ada yang mau menambahkan, silahkan tambahkan di kolom komentar. Terimakasih.
Thursday, 3 October 2019
Hutang Tulisan itu Berat
Apakah anda orang yang takut punya hutang? Sayapun iya. Begitu takutnya punya hutang sampai-sampai setiap pengeluaran dan pemasukan kutulis meski hanya jajan sebesar Rp 1000,-. Bukannya pelit atau apalah itu, aku dan suami hanya berusaha menjaga.
Ups, tapi bukan masalah kehidupan hutang uang yang akan kutulis.
Sejak ikut komunitas ODOP, rasanya setiap hari aku dikejar deadline. Dikejar untuk bisa menulis apapun itu, meski per pekan ada satu tantangan yang diberikan.
Pernah aku punya hutang nulis. Bagaimana tidak? Bersamaan dengan menumpuknya agenda sekolah, pekerjaan sekolah, anak juga sedang butuh belaian lembut dari emaknya, setrikaan menumpuk, dan lain sebagainya.
Akhirnya, aktivitas menulis yang biasanya kukerjakan di malam hari ba'da meninabobokan anak jadi terbengkalai. Karena kelelahan, matapun ikut terpejam bersama nyenyaknya tidur sang anak. Setelah diri mencoba membuka mata ternyata sudah hampir subuh. Dengan terpaksa hutang tulisan bukan?
Begitu dengan hari berikutnya, hingga pernah dalam sepekan punya dua hutang tulisan. Percayalah, bayar hutang itu berat.
Hutang tulisan yang kupunya terasa begitu berat. Biasanya dapat ide menulis hanya "makcling" tapi kini, harus menulis tiga judul, dua judul bayar hutang dan satunya tugas hari tersebut.
Mantap sangat rasanya, ide begitu buntu. Akhirnya kukerjakan hingga pukul 23:59, hampir saja telat posting. Alhamdulillah target tercapai. Dan in syaa Allah takkan kuulangi untuk memiliki hutang lagi.
Tulisan unfaedah ini kubuat karena malam ini sedang buntu juga. Seperti tak ada ide yang jalan-jalan di kepalaku.
Baiklah, mohon supportnya untuk aku dan anggota ODOP lainnya, semoga kami istiqomah menulis.
Ups, tapi bukan masalah kehidupan hutang uang yang akan kutulis.
Sejak ikut komunitas ODOP, rasanya setiap hari aku dikejar deadline. Dikejar untuk bisa menulis apapun itu, meski per pekan ada satu tantangan yang diberikan.
Pernah aku punya hutang nulis. Bagaimana tidak? Bersamaan dengan menumpuknya agenda sekolah, pekerjaan sekolah, anak juga sedang butuh belaian lembut dari emaknya, setrikaan menumpuk, dan lain sebagainya.
Akhirnya, aktivitas menulis yang biasanya kukerjakan di malam hari ba'da meninabobokan anak jadi terbengkalai. Karena kelelahan, matapun ikut terpejam bersama nyenyaknya tidur sang anak. Setelah diri mencoba membuka mata ternyata sudah hampir subuh. Dengan terpaksa hutang tulisan bukan?
Begitu dengan hari berikutnya, hingga pernah dalam sepekan punya dua hutang tulisan. Percayalah, bayar hutang itu berat.
Hutang tulisan yang kupunya terasa begitu berat. Biasanya dapat ide menulis hanya "makcling" tapi kini, harus menulis tiga judul, dua judul bayar hutang dan satunya tugas hari tersebut.
Mantap sangat rasanya, ide begitu buntu. Akhirnya kukerjakan hingga pukul 23:59, hampir saja telat posting. Alhamdulillah target tercapai. Dan in syaa Allah takkan kuulangi untuk memiliki hutang lagi.
Tulisan unfaedah ini kubuat karena malam ini sedang buntu juga. Seperti tak ada ide yang jalan-jalan di kepalaku.
Baiklah, mohon supportnya untuk aku dan anggota ODOP lainnya, semoga kami istiqomah menulis.
Wednesday, 2 October 2019
Beri Kepercayaan pada Anak
Masih tentang sebuah kepercayaan. Bagaimana mungkin seorang Ibu tidak percaya dengan anaknya?. Bagaimana mungkin Ayah pun tak mempercayai anaknya?.
"Bu Lia, apa benar besok pulang ba'da dzuhur? Soalnya kata Andi pulang ba'da dzuhur".
"Bu Lia, apa benar besok libur? Soalnya kata Andi besok libur".
Dua kalimat diatas seringkali mendarat di Hp para walikelas masa kini. Jika kita bandingkan dengan masa lalu yang belum ada Hp, kebanyakan orangtua begitu percaya dengan anak-anaknya. Paling yang dilontarkan oleh orangtua hanya kalimat
"Kenapa Libur?"
'Gurunya rapat bu".
"Kenapa pulang pagi?".
'Gurunya takziah bu".
Selesai masalahnya, tanpa dipertanyakan ulang ke gurunya. Tapi zaman sekarang? Maa syaa Allah, tingkat kepercayaan orangtua ke anaknya begitu minim.
Meskipun tabayyun itu sangat penting.
Dalam hal ini, aku juga tidak bisa menyalahkan orangtuanya. Kenapa?
Dizaman secanggih ini memang susah menemukan orang jujur. Bisa jadi beberapa anak memang ada yang tidak jujur, sering berbohong libur hanya demi bermain game, sering bolos sekolah hanya demi pergi ke warnet dan lain sebagainya.
Tapi pertanyaanya?
Ini anak SD, mungkinkah dia berbohong demi bermain game?. Mungkinkah dia membolos hanya ingin menikmati isi warnet?. Entahlah, sulit dipercaya memang.
Pengalaman ini kujadikan sebagai pelajaran hidup untuk mendidik anak-anakku kelak. Semoga kelak, aku menjadi seorang Ibu yang percaya kepada anak-anakku. Semoga Allah juga memberikan anak-anak yang jujur dan taat pada Robb-Nya, hanya takut kepada Robb-Nya.
"Bu Lia, apa benar besok pulang ba'da dzuhur? Soalnya kata Andi pulang ba'da dzuhur".
"Bu Lia, apa benar besok libur? Soalnya kata Andi besok libur".
Dua kalimat diatas seringkali mendarat di Hp para walikelas masa kini. Jika kita bandingkan dengan masa lalu yang belum ada Hp, kebanyakan orangtua begitu percaya dengan anak-anaknya. Paling yang dilontarkan oleh orangtua hanya kalimat
"Kenapa Libur?"
'Gurunya rapat bu".
"Kenapa pulang pagi?".
'Gurunya takziah bu".
Selesai masalahnya, tanpa dipertanyakan ulang ke gurunya. Tapi zaman sekarang? Maa syaa Allah, tingkat kepercayaan orangtua ke anaknya begitu minim.
Meskipun tabayyun itu sangat penting.
Dalam hal ini, aku juga tidak bisa menyalahkan orangtuanya. Kenapa?
Dizaman secanggih ini memang susah menemukan orang jujur. Bisa jadi beberapa anak memang ada yang tidak jujur, sering berbohong libur hanya demi bermain game, sering bolos sekolah hanya demi pergi ke warnet dan lain sebagainya.
Tapi pertanyaanya?
Ini anak SD, mungkinkah dia berbohong demi bermain game?. Mungkinkah dia membolos hanya ingin menikmati isi warnet?. Entahlah, sulit dipercaya memang.
Pengalaman ini kujadikan sebagai pelajaran hidup untuk mendidik anak-anakku kelak. Semoga kelak, aku menjadi seorang Ibu yang percaya kepada anak-anakku. Semoga Allah juga memberikan anak-anak yang jujur dan taat pada Robb-Nya, hanya takut kepada Robb-Nya.
Tuesday, 1 October 2019
Hilang Berkali-kali
"Mana sepatumu Andi?" Tanya Ibunya saat ia dijemput sepulang sekolah.
"Hilang, bu". Jawab Andi sekenanya.
Mata Ibu Andi tertuju pada teras masjid. Disana ada sebuah sepatu yang entah milik siapa.
"Itu sepatumu Andi, sana diambil dulu"! Perintah Ibu Andi.
"Itu bukan milikku bu".
"Ibu yang membelikanmu sepatu itu, tidak mungkin Ibu salah. Sana ambil sepatunya".
Dengan tubuh yang agak sempoyongan, Andi terpaksa mengambil sepatu itu.
Hari-hari berlalu begitu saja, sampai tiba-tiba bunyi hp berdering di siang hari.
'Assalamualaikum Bu Lia, saya bundanya Mas Bayu mau melaporkan, sepatu anak saya hilang sejak dua hari yang lalu. Kata anak saya, sepatunya diambil sama yang namanya Andi, tapi Andi tidak mengakuinya. Tolong dibantu menyelesaikan masalah ini ya bu". Pinta seorang Ibu diseberang sana.
Kaget bukan kepalang, namun kita tak boleh menuduh seseorang tanpa bukti bukan?
Karna Andi kini sedang terjerat kasus yang lumayan berat di sekolahnya, maka aku laporkan saja kasus ini ke waka kesiswaan. Alhamdulillah direspon dengan cepat. Andi yang suka berkata tidak jujur, berbelit-belit serta tidak merasa bersalah kini mulai terpojok dengan pertanyaan jebakan yang diajukan oleh waka kesiswaan. Lambat laun, Andi mengakui bahwa sepatu tersebut milik Bayu, bukan miliknya. Alhamdulillah, didepan mata wali kelasnya, Andi meminta maaf kepada Bayu seraya mengembalikan sepatu tersebut.
Setelah sepatu dikembalikan, Bayu hanya meletakkannya di rak sepatu. Kemudian Bayu mengikuti pelajaran seperti biasa. Saat pulang sekolah,
"Loh, sepatuku yang tadi dipulangkan sama Andi kemana?".
Akhirnya sepatu Bayu hilang lagi.
Saat Bayu melapor kepadaku, esoknya aku mencurigai Andi. Namun, Andi kini memakai sepatu lain bukan sepatu Bayu. Rasa curigaku berkurang.
'Ah, mungkin sepatunya ada yang nyumputin," pikirku.
Hari-hari berlalu, namun sepatu Bayu tak kunjung ketemu. Ketika hari Jumat, Bayu sontak merasa kaget, ternyata Andi memakai sepatu miliknya.
"Andi, itu kan sepatuku". Kata Bayu.
"Bukan ya, ini sepatu saudaraku". Jawabnya.
Bayu kemudian melaporkan hal tersebut kepadaku. Aku mencoba tenang dan meminta Bayu menjelaskan ciri-ciri sepatu miliknya.
Ternyata benar, sepatu itu milik Bayu. Siang itu, aku menemui walikelas Andi dan melaporkan hal tersebut seraya meminta izin untuk mengambil sepatu tersebut tanpa sepengetahuan Andi, seperti Andi mengambil sepatu itu dari rak sepatu kelas Bayu.
Aku berpesan kepada Bayu, agar sepatunya jangan sampai dikeluarkan dari tas, dan nantinya diletakkan di rumah saja. Jangan sampai dipakai saat sekolah. Baru siang kuambil sepatu tersebut, dan dimasukkan di tas Bayu, sorenya sepatu itu hilang lagi.
Cerita Bayu, sore itu Bayu melaksanakan sholat asar berjamaah. Dia letakkan tas berisi sepatunya di teras masjid. Ternyata, saat Bayu mau pulang sepatu di dalam tasnya tidak ada lagi. Bayu langsung mencurigai Andi.
Keesokan harinya, saat mendapat laporan aku langsung geram. Bisa-bisanya Andi mengambil barang yang bukan miliknya dari dalam tas yang juga bukan miliknya.
Setelah melalui beberapa proses. Akhirnya kita sepakat memanggil orangtua dari Andi. Saat itu yang hadir adalah Ayahnya. Ayah Andi kemudian meminta maaf, dan berjanji akan mengganti sepatu milik Bayu jika belum ketemu.
Ketika Andi dipanggil ke kantor, dan dimintai penjelasan. Andi kemudian berkata jujur. Bahwa sepatu milik Bayu ia sembunyikan dengan alasan 'takut dimarah Ibunya'. Andi tidak mau Ibunya kecewa karena sepatunya hilang lagi.
Namun, setelah kejadian ini Andi langsung mengembalikan sepatu milik Bayu.
Ibu Andi kemudian datang ke sekolah dan memeluk Bu Risna waka kesiswaan kita. Sambil menangis, Ibu Andi berkata,
"Andaikan saya percaya sama anak saya, bahwa itu bukan sepatu miliknya mungkin masalah ini tidak akan terjadi. Maafkan saya bu, karena sepatu milik anak saya mirip seperti sepatu yang kemarin." kata Ibu Andi terbata-bata.
Ibu Andi meminta maaf kepada semua pihak. Kini Andi dan Bayu pun berteman.
"Hilang, bu". Jawab Andi sekenanya.
Mata Ibu Andi tertuju pada teras masjid. Disana ada sebuah sepatu yang entah milik siapa.
"Itu sepatumu Andi, sana diambil dulu"! Perintah Ibu Andi.
"Itu bukan milikku bu".
"Ibu yang membelikanmu sepatu itu, tidak mungkin Ibu salah. Sana ambil sepatunya".
Dengan tubuh yang agak sempoyongan, Andi terpaksa mengambil sepatu itu.
Hari-hari berlalu begitu saja, sampai tiba-tiba bunyi hp berdering di siang hari.
'Assalamualaikum Bu Lia, saya bundanya Mas Bayu mau melaporkan, sepatu anak saya hilang sejak dua hari yang lalu. Kata anak saya, sepatunya diambil sama yang namanya Andi, tapi Andi tidak mengakuinya. Tolong dibantu menyelesaikan masalah ini ya bu". Pinta seorang Ibu diseberang sana.
Kaget bukan kepalang, namun kita tak boleh menuduh seseorang tanpa bukti bukan?
Karna Andi kini sedang terjerat kasus yang lumayan berat di sekolahnya, maka aku laporkan saja kasus ini ke waka kesiswaan. Alhamdulillah direspon dengan cepat. Andi yang suka berkata tidak jujur, berbelit-belit serta tidak merasa bersalah kini mulai terpojok dengan pertanyaan jebakan yang diajukan oleh waka kesiswaan. Lambat laun, Andi mengakui bahwa sepatu tersebut milik Bayu, bukan miliknya. Alhamdulillah, didepan mata wali kelasnya, Andi meminta maaf kepada Bayu seraya mengembalikan sepatu tersebut.
Setelah sepatu dikembalikan, Bayu hanya meletakkannya di rak sepatu. Kemudian Bayu mengikuti pelajaran seperti biasa. Saat pulang sekolah,
"Loh, sepatuku yang tadi dipulangkan sama Andi kemana?".
Akhirnya sepatu Bayu hilang lagi.
Saat Bayu melapor kepadaku, esoknya aku mencurigai Andi. Namun, Andi kini memakai sepatu lain bukan sepatu Bayu. Rasa curigaku berkurang.
'Ah, mungkin sepatunya ada yang nyumputin," pikirku.
Hari-hari berlalu, namun sepatu Bayu tak kunjung ketemu. Ketika hari Jumat, Bayu sontak merasa kaget, ternyata Andi memakai sepatu miliknya.
"Andi, itu kan sepatuku". Kata Bayu.
"Bukan ya, ini sepatu saudaraku". Jawabnya.
Bayu kemudian melaporkan hal tersebut kepadaku. Aku mencoba tenang dan meminta Bayu menjelaskan ciri-ciri sepatu miliknya.
Ternyata benar, sepatu itu milik Bayu. Siang itu, aku menemui walikelas Andi dan melaporkan hal tersebut seraya meminta izin untuk mengambil sepatu tersebut tanpa sepengetahuan Andi, seperti Andi mengambil sepatu itu dari rak sepatu kelas Bayu.
Aku berpesan kepada Bayu, agar sepatunya jangan sampai dikeluarkan dari tas, dan nantinya diletakkan di rumah saja. Jangan sampai dipakai saat sekolah. Baru siang kuambil sepatu tersebut, dan dimasukkan di tas Bayu, sorenya sepatu itu hilang lagi.
Cerita Bayu, sore itu Bayu melaksanakan sholat asar berjamaah. Dia letakkan tas berisi sepatunya di teras masjid. Ternyata, saat Bayu mau pulang sepatu di dalam tasnya tidak ada lagi. Bayu langsung mencurigai Andi.
Keesokan harinya, saat mendapat laporan aku langsung geram. Bisa-bisanya Andi mengambil barang yang bukan miliknya dari dalam tas yang juga bukan miliknya.
Setelah melalui beberapa proses. Akhirnya kita sepakat memanggil orangtua dari Andi. Saat itu yang hadir adalah Ayahnya. Ayah Andi kemudian meminta maaf, dan berjanji akan mengganti sepatu milik Bayu jika belum ketemu.
Ketika Andi dipanggil ke kantor, dan dimintai penjelasan. Andi kemudian berkata jujur. Bahwa sepatu milik Bayu ia sembunyikan dengan alasan 'takut dimarah Ibunya'. Andi tidak mau Ibunya kecewa karena sepatunya hilang lagi.
Namun, setelah kejadian ini Andi langsung mengembalikan sepatu milik Bayu.
Ibu Andi kemudian datang ke sekolah dan memeluk Bu Risna waka kesiswaan kita. Sambil menangis, Ibu Andi berkata,
"Andaikan saya percaya sama anak saya, bahwa itu bukan sepatu miliknya mungkin masalah ini tidak akan terjadi. Maafkan saya bu, karena sepatu milik anak saya mirip seperti sepatu yang kemarin." kata Ibu Andi terbata-bata.
Ibu Andi meminta maaf kepada semua pihak. Kini Andi dan Bayu pun berteman.
Monday, 30 September 2019
Jadi Bendahara Ternyata Tidak Mudah
Pernahkah anda merasakan posisi sebagai bendahara? Baik itu di organisasi, di kelas, di sekolah, di asrama atau dimana saja tempatnya. Jika pernah, pasti anda akan merasakan susahnya jadi bendahara.
Sama halnya seperti aku, kini aku diberi amanah menjadi bendahara disebuah koperasi.
Awalnya aku berfikir, menjadi bendahara itu mudah. Karena tugasnya hanya nagih uang, mencatat, lalu pegang uang.
Tapi ketika aku ditunjuk jadi bendahara di koperasi ini, aku sudah menolak untuk memegang uang. Aku orangnya suka khilaf, takutnya uang ummat aku pakai. Kan Ngeri.
Jadi bendahara itu dituntut untuk memiliki tanggung jawab yang tinggi. Mencatat semua pengeluaran dan pemasukan. Walau pengeluaran itu hanya untuk membeli jarum atau hanya keluar Rp 1 (satu rupiah) saja harus dicatat. Dijelaskan sejelas-jelasnya dan sedetil-deilnya. Jangan ada yang tidak disampaikan ke dalam buku rekapitulasi.
Pernah suatu hari saya lupa mencatat laporan, benar-benar lupa karna saat itu kebetulan masih banyak kerjaan. Luar biasa pusing dibuatnya. Meskipun uang yang lupa dicatat hanya sedikit, tapi malunya dengan ketua koperasi luar biasa.
Padahal yang namanya lupa, mau disumpah apapun ya berani. Namanya juga lupa. Sudah qadratnya manusia banyak luputnya.
Menjadi bendaharapun tanggung jawab yang diemban bukan kepada diri sendiri, selain kepada anggota, menjadi bwndahara harus bisa bertanggung jawab dihadapan Allah. Maa syaa Allah bukan?
Tugas bendahara ternyata banyak sekali. Seperti yang sekarang kualami. Selain menagih angsuran, mencatat laporan, kini ada tugas baru, mencatat belanjaan para anggota karena koperasi tempatku menjadi bendahara membuka warung. Sehingga beban semakin bertambah.
Apalagi saat laporan, sampai bingung jawaban yang harus disiapkan.
Semisal
"Pak, fulanah tidak angsuran bulan ini"
"Kenapa?". Tanya balik.
Mana aku tahu kenapanya.
"Pak, fulan dan fulanah tidak belanja bulan ini".
"Kenapa? Dijapri lo bu". Jawabnya
Maa syaa Allah, berat sekali beban menjadi bendahara. Beban moral iya, karena setiap menagih angsuran atau mengajak belanja, aku harus putuskan urat malu, tarik nafas, tenangkan hati, baru mulai bicara. Itu saja diikuti perasaan was-was. Takut jika kalimatku menyinggung perasaan anggota lainnya.
Maka, bagi kalian yang mengatakan menjadi bendahara mudah, setelah ini ubahlah pandangan seperti itu. Itu tidak semudah yang kita bayangkan. Jadi bendahara itu tidak enak dan tidak gampang. Saya baru merasakannya seperti itu. Karena selain mananggung beban moral menagih-nagih, juga aku harus mengeluarkan uang untuk mengganti kekurangan uang yang ada setelah dijumlahkan. Padahal sudah kucatat semuanya dalam pembukuan. Sepertinya tidak mungkin uang itu bisa kurang. Tapi ternyata uang yang ada kurang, tidak tahu entah kemana.
Nah, bisa rugi bukan??
Sama halnya seperti aku, kini aku diberi amanah menjadi bendahara disebuah koperasi.
Awalnya aku berfikir, menjadi bendahara itu mudah. Karena tugasnya hanya nagih uang, mencatat, lalu pegang uang.
Tapi ketika aku ditunjuk jadi bendahara di koperasi ini, aku sudah menolak untuk memegang uang. Aku orangnya suka khilaf, takutnya uang ummat aku pakai. Kan Ngeri.
Jadi bendahara itu dituntut untuk memiliki tanggung jawab yang tinggi. Mencatat semua pengeluaran dan pemasukan. Walau pengeluaran itu hanya untuk membeli jarum atau hanya keluar Rp 1 (satu rupiah) saja harus dicatat. Dijelaskan sejelas-jelasnya dan sedetil-deilnya. Jangan ada yang tidak disampaikan ke dalam buku rekapitulasi.
Pernah suatu hari saya lupa mencatat laporan, benar-benar lupa karna saat itu kebetulan masih banyak kerjaan. Luar biasa pusing dibuatnya. Meskipun uang yang lupa dicatat hanya sedikit, tapi malunya dengan ketua koperasi luar biasa.
Padahal yang namanya lupa, mau disumpah apapun ya berani. Namanya juga lupa. Sudah qadratnya manusia banyak luputnya.
Menjadi bendaharapun tanggung jawab yang diemban bukan kepada diri sendiri, selain kepada anggota, menjadi bwndahara harus bisa bertanggung jawab dihadapan Allah. Maa syaa Allah bukan?
Tugas bendahara ternyata banyak sekali. Seperti yang sekarang kualami. Selain menagih angsuran, mencatat laporan, kini ada tugas baru, mencatat belanjaan para anggota karena koperasi tempatku menjadi bendahara membuka warung. Sehingga beban semakin bertambah.
Apalagi saat laporan, sampai bingung jawaban yang harus disiapkan.
Semisal
"Pak, fulanah tidak angsuran bulan ini"
"Kenapa?". Tanya balik.
Mana aku tahu kenapanya.
"Pak, fulan dan fulanah tidak belanja bulan ini".
"Kenapa? Dijapri lo bu". Jawabnya
Maa syaa Allah, berat sekali beban menjadi bendahara. Beban moral iya, karena setiap menagih angsuran atau mengajak belanja, aku harus putuskan urat malu, tarik nafas, tenangkan hati, baru mulai bicara. Itu saja diikuti perasaan was-was. Takut jika kalimatku menyinggung perasaan anggota lainnya.
Maka, bagi kalian yang mengatakan menjadi bendahara mudah, setelah ini ubahlah pandangan seperti itu. Itu tidak semudah yang kita bayangkan. Jadi bendahara itu tidak enak dan tidak gampang. Saya baru merasakannya seperti itu. Karena selain mananggung beban moral menagih-nagih, juga aku harus mengeluarkan uang untuk mengganti kekurangan uang yang ada setelah dijumlahkan. Padahal sudah kucatat semuanya dalam pembukuan. Sepertinya tidak mungkin uang itu bisa kurang. Tapi ternyata uang yang ada kurang, tidak tahu entah kemana.
Nah, bisa rugi bukan??
Sunday, 29 September 2019
Ayah
Ayah, saat kau jauh dariku
Hati ini pilu mengenang kebersamaan dengamu
Saat kutanyakan kabarmuPercayalah, aku tak ada maksud lain
Hanya kabar kesehatanmu yang kutunggu
Maafkan aku,
Dulu nasehatmu kuabaikan
Kata-katamu kupatahkan
Saat ini kusadar
Betapa sesungguhnya kau mencintaiku
Mencintai anak-anakmu
Ayah, bertahanlah sejenak di sana
Dan bila saatnya tiba,kembalillah dengan sejuta cintamu untukku,
Untuk semua anak-anakmu
Tetes air matamu menyayat hatiku
Berjanjilah untuk tidak menangis lagi
Lantunan do'a aku persembahkan untukmu
Aku menyayangimu
Meski kadang kuberfikir caraku salah
Yakinlah bahwa Aku selalu menyayangimu.
Berani Berkata Benar
Dulu sering sekali aku membuat catatan jika aku suntuk. kali ini aku
mencoba membuka catatan itu, kutemukan sedikit goresan tinta ini
Bismillah, akan kucoba tulis ulang disini.
Kadang-kadang kita terlalu menjaga hati dan perasaan orang lain, kita takut segala kebenaran yang akan disampaikan akan membuatkan hati sesetengah orang yang ada disekeliling kita akan terluka. Sayangnya kerana terlalu menjaga hati orang lain, kita sebenarnya telah menyebabkan hati orang-orang yang ingin kita jaga itu jadi bertambah terluka apabila kebenaran yang disembunyikan itu akhirnya terbongkar.
Sepahit mana pun kebenaran itu, jadilah orang yang berani menyatakannya. Mungkin dengan keberanian itu, orang-orang yang ada disekeliling kita akan lebih menghargai keikhlasan dan kejujuran kita. Ajarlah jiwa kita agar sentiasa berlapang dada dan sentiasa berani menghadapi setiap kemungkinan yang akan terjadi setelah kebenaran itu dinyatakan. Kita bukanlah manusia yang terlalu sempurna, yang tidak pernah melakukan kesilapan dalam hidup namun setiap kesilapan yang pernah dilakukan haruslah dikaji agar kesilapan-kesilapan itu tidak berulang lagi pada masa-masa akan datang.
Saya tahu, di luar sana ramai yang bertindak menyembunyikan kebenaran dan mereka ini saya percaya bukanlah tidak jujur, tidak ikhlas atau hipokrit tapi mereka pasti punya alasan tersendiri untuk tidak menyatakan kebenaran itu.
Untuk semua, jika anda benar-benar menyayangi dan menghargai persahabatan yang anda jalin dengan sahabat-sahabat anda, beranilah menyatakan kebenaran. Beranilah menegur jika ada salah sikap yang dilakukannya. Tegurlah dengan penuh kasih sayang bukan dengan kritikan dan cemoohan menghina. Persahabatan dan perhubungan yang dibina berlandaskan kasih sayang pasti akan menjadikan sesuatu hubungan itu lebih manis.
Bismillah, akan kucoba tulis ulang disini.
Kadang-kadang kita terlalu menjaga hati dan perasaan orang lain, kita takut segala kebenaran yang akan disampaikan akan membuatkan hati sesetengah orang yang ada disekeliling kita akan terluka. Sayangnya kerana terlalu menjaga hati orang lain, kita sebenarnya telah menyebabkan hati orang-orang yang ingin kita jaga itu jadi bertambah terluka apabila kebenaran yang disembunyikan itu akhirnya terbongkar.
Sepahit mana pun kebenaran itu, jadilah orang yang berani menyatakannya. Mungkin dengan keberanian itu, orang-orang yang ada disekeliling kita akan lebih menghargai keikhlasan dan kejujuran kita. Ajarlah jiwa kita agar sentiasa berlapang dada dan sentiasa berani menghadapi setiap kemungkinan yang akan terjadi setelah kebenaran itu dinyatakan. Kita bukanlah manusia yang terlalu sempurna, yang tidak pernah melakukan kesilapan dalam hidup namun setiap kesilapan yang pernah dilakukan haruslah dikaji agar kesilapan-kesilapan itu tidak berulang lagi pada masa-masa akan datang.
Saya tahu, di luar sana ramai yang bertindak menyembunyikan kebenaran dan mereka ini saya percaya bukanlah tidak jujur, tidak ikhlas atau hipokrit tapi mereka pasti punya alasan tersendiri untuk tidak menyatakan kebenaran itu.
Untuk semua, jika anda benar-benar menyayangi dan menghargai persahabatan yang anda jalin dengan sahabat-sahabat anda, beranilah menyatakan kebenaran. Beranilah menegur jika ada salah sikap yang dilakukannya. Tegurlah dengan penuh kasih sayang bukan dengan kritikan dan cemoohan menghina. Persahabatan dan perhubungan yang dibina berlandaskan kasih sayang pasti akan menjadikan sesuatu hubungan itu lebih manis.
Sendalku sayang, Sendalku Malang
Didunia pendidikan zaman sekarang, sepatu hanya digunakan saat berangkat dan pulang sekolah. Baik itu siswanya maupun gurunya sendiri. Karena sedikit banyak sekolah-sekolah sekarang berlantaikan keramik sehingga sepatu hanya sebagai simbol semata.
Seperti di sebuah sekolah swasta yang ada di kotaku. Disekolah tersebut baik guru maupun siswanya sebagian besar membawa sandal sebagai alas kaki saat jam istirahat, jam sholat dzuhur, jam sholat duha maupun jam lainnya.
Sayangnya, seringkali beberapa sendal sering berpindah tempat dengan sendirinya, hilang sebelah bahkan ada yang lenyap tak ada jejaknya. Sebelumnya solusi kami yaitu dengan memberi nama pada sendal milik kami dengan menggunakan sepidol permanen. Namun sayang, kejadian sendal hilangpun masih terulang. Dahsyatnya lagi, sendal warga yang ikut sholat dzuhur berjamaahpun pernah hilang.
Amazing bukan??
Bukan suudzon tapi, kejadian ini ada 2 sebab. Jika bukan siswa yang memakai sendal tanpa izin, berarti gurunya yang ngawur memakai sendal oranglain.
Oleh karena itu, solusi dari kami yaitu dengan mengingat bahwa kebaikan sekecil apapun harus dimulai dari kecil, dimulai dari diri sendiri, dimulai dari sekarang. Nah, kini tak henti-hentinya kami saling mengingatkan bahwa, memakai barang milik oranglain tanpa izin sama dengan mencuri. Maka, biasakan izin sebelum memakai barang milik oranglain termasuk sendal. Jika tidak mampu untuk meminta izin, maka milikilah sendiri barang pribadi tersebut!
Seperti di sebuah sekolah swasta yang ada di kotaku. Disekolah tersebut baik guru maupun siswanya sebagian besar membawa sandal sebagai alas kaki saat jam istirahat, jam sholat dzuhur, jam sholat duha maupun jam lainnya.
Sayangnya, seringkali beberapa sendal sering berpindah tempat dengan sendirinya, hilang sebelah bahkan ada yang lenyap tak ada jejaknya. Sebelumnya solusi kami yaitu dengan memberi nama pada sendal milik kami dengan menggunakan sepidol permanen. Namun sayang, kejadian sendal hilangpun masih terulang. Dahsyatnya lagi, sendal warga yang ikut sholat dzuhur berjamaahpun pernah hilang.
Amazing bukan??
Bukan suudzon tapi, kejadian ini ada 2 sebab. Jika bukan siswa yang memakai sendal tanpa izin, berarti gurunya yang ngawur memakai sendal oranglain.
Oleh karena itu, solusi dari kami yaitu dengan mengingat bahwa kebaikan sekecil apapun harus dimulai dari kecil, dimulai dari diri sendiri, dimulai dari sekarang. Nah, kini tak henti-hentinya kami saling mengingatkan bahwa, memakai barang milik oranglain tanpa izin sama dengan mencuri. Maka, biasakan izin sebelum memakai barang milik oranglain termasuk sendal. Jika tidak mampu untuk meminta izin, maka milikilah sendiri barang pribadi tersebut!
Saturday, 28 September 2019
Resensi buku "Yuk, Berhijab! "
Minggu ketiga di komunitas ODOP rasa menyerah dan pasrah mulai melanda. Bagaimana tidak, aku yang tidak terlalu suka membaca mendapat tantangan menulis resensi buku. Belum lagi diminggu ini hutang tulisanku ada dua. Kemudian, agenda di minggu ini yang harus mengawal anak-anak kemah sangat melelahkan. Belum lagi bermain bersama baby Arkhan, maa syaa Allah lelah sekali emak.
Namun, aku tak ingin mundur dari komunitas yang sangat positif ini, tetap saja cari celah untuk tetap menulis. Dan kali ini aku ingin menulis resensi buku yang berjudul "Yuk,Berhijab!"
Identitas Buku
Judul buku: Yuk, Berhijab!
Penulis : Felix Y. Siauw
Penerbit: Alfatih Press
ISBN: 978-602-1799-74-1
Tahun Terbit: 2015
Tebal Halaman: 148 Halaman.
Meskipun judul buku ini Yuk, Berhijab. Secara tidak langsung, saat membaca buku ini kita tahu bahwa buku ini menceritakan tentang bagaimana seorang wanita berhijrah. Kenapa kukatakan berhijrah? Karena hampir disetiap bab bukan hanya ajakan untuk berhijab garis kecil. Namun juga berhijab garis besar.
Di buku ini juga menjelaskan secara rinci bagaimana Islam memuliakan wanita dari aturan berpakaian, menutup aurat sampai bagaimana wanita dihormati dengan hijabnya.
Hijab dalam buku ini, bukan hanya tentang pakaian maupun jilbab yang harus dikenakan oleh seorang muslimah. Namun, sampai hal tabarujpun dibahas. Bagaimana cara ketika seorang muslimah berjalan di tengah-tengah kerumunan lelaki sampai dengan makna "berpakaian tetapi telanjang".
Kelebihan buku
Didalam buku ini ada catatan si Benefiko di setiap akhir bab. Nah ini nih yang membuat buku ini semakin menarik dibaca. Di cacatan si Benefiko ditampilkan ilustrasi disertai gambar yang membuat jalannya cerita semakin menarik. Kelebihan lainnya di setiap kalimat banyak yang menggugah ghiroh untuk kita mengikuti ajakan sang penulis untuk berhijrah.
Kekurangan buku
Sebagaimana Allah katakan bahwasanya tidak ada yang sempurna di dunia ini. Begitu juga dengan buku yang telah terbit. Karena selera pembaca juga berbeda-beda, kemungkinan besar kekurangan yang dirasa juga berbeda. Menurutku kekurangan yang ada di buku ini, arti dari setiap ayat yang dimunculkan menggunakan pena warna merah. Sedangkan kita tahu, bahwa pena merah tidak bagus untuk kesehatan mata para pembaca.
Secara garis besar, buku "Yuk, Berhijab! sangat recomended untuk dibaca bagi muslimah maupun muslim. Dari berbagai usia. Kenapa yang muslim juga cocok membaca buku ini? Sebagai tuntunan untuk membimbing Sang Istri maupun anak perempuannya.
Namun, aku tak ingin mundur dari komunitas yang sangat positif ini, tetap saja cari celah untuk tetap menulis. Dan kali ini aku ingin menulis resensi buku yang berjudul "Yuk,Berhijab!"
Identitas Buku
Judul buku: Yuk, Berhijab!
Penulis : Felix Y. Siauw
Penerbit: Alfatih Press
ISBN: 978-602-1799-74-1
Tahun Terbit: 2015
Tebal Halaman: 148 Halaman.
Meskipun judul buku ini Yuk, Berhijab. Secara tidak langsung, saat membaca buku ini kita tahu bahwa buku ini menceritakan tentang bagaimana seorang wanita berhijrah. Kenapa kukatakan berhijrah? Karena hampir disetiap bab bukan hanya ajakan untuk berhijab garis kecil. Namun juga berhijab garis besar.
Di buku ini juga menjelaskan secara rinci bagaimana Islam memuliakan wanita dari aturan berpakaian, menutup aurat sampai bagaimana wanita dihormati dengan hijabnya.
Hijab dalam buku ini, bukan hanya tentang pakaian maupun jilbab yang harus dikenakan oleh seorang muslimah. Namun, sampai hal tabarujpun dibahas. Bagaimana cara ketika seorang muslimah berjalan di tengah-tengah kerumunan lelaki sampai dengan makna "berpakaian tetapi telanjang".
Kelebihan buku
Didalam buku ini ada catatan si Benefiko di setiap akhir bab. Nah ini nih yang membuat buku ini semakin menarik dibaca. Di cacatan si Benefiko ditampilkan ilustrasi disertai gambar yang membuat jalannya cerita semakin menarik. Kelebihan lainnya di setiap kalimat banyak yang menggugah ghiroh untuk kita mengikuti ajakan sang penulis untuk berhijrah.
Kekurangan buku
Sebagaimana Allah katakan bahwasanya tidak ada yang sempurna di dunia ini. Begitu juga dengan buku yang telah terbit. Karena selera pembaca juga berbeda-beda, kemungkinan besar kekurangan yang dirasa juga berbeda. Menurutku kekurangan yang ada di buku ini, arti dari setiap ayat yang dimunculkan menggunakan pena warna merah. Sedangkan kita tahu, bahwa pena merah tidak bagus untuk kesehatan mata para pembaca.
Secara garis besar, buku "Yuk, Berhijab! sangat recomended untuk dibaca bagi muslimah maupun muslim. Dari berbagai usia. Kenapa yang muslim juga cocok membaca buku ini? Sebagai tuntunan untuk membimbing Sang Istri maupun anak perempuannya.
Friday, 27 September 2019
Keluarga Miskin Penerima PKH
Beberapa tahun terakhir pemerintah mengadakan program PKH.
PKH atau Program Keluarga Harapan adalah program perlindungan sosial melalui pemberian uang non tunai kepada Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM). Mereka yang berhak mendapatkan PKH adalah yang memiliki ibu hamil/nifas/menyusui, dan/atau memiliki anak balita atau anak usia 5-7 tahun yang belum masuk pendidikan SD, dan/atau memiliki anak usia SD dan/atau SMP dan/atau anak usia 15-18 tahun yang belum menyelesaikan pendidikan dasar.
Menarik sekali ketika membahas kata miskin. Seharusnya pemerintah menuliskan kriteria miskin yang harus menerima bantuan PKH ini.
Kenapa?
Akhir-akhir ini, salah satu penerima bantuan PKH curhat ke aku. Kebetulan beliau terbilang mampu jika kita hanya melihat dari bentuk rumahnya. Rumah yang sudah mentereng tegak beralaskan keramik. Namun jika kita melihat kedalam, luar biasa maa syaa Allah. Ternyata rumah yang kini berdiri kokoh, hasil dari iuran anak-anaknya, sawah tak punya, ladang tak punya, hanya sepetak rumah yang ia miliki.
Kemudian, ada beberapa tetangganya yang kini tengah berebut menginginkan bantuan PKH ini jika ada kesempatan. Mereka mengaku perlu menerima bantuan ini, karena menurut mereka, merekalah yang berhak menerima bantuan tersebut.
"Rumahku lo masih jelek, kok aku enggak dapat bantuan". Ucap mereka.
Iya, rumah yang dihuni mereka memang belum bagus jika dilihat dari kacamata orang yang tidak bersyukur. Kenapa kubilang tidak bersyukur? Mereka memiliki segalanya, sawah mereka punya, ladang karet mereka punya, tempat tinggal yang layak juga mereka punya.
Siapa sih yang mau miskin? Pasti tak ada yang mau. Begitu juga Ibu penerima PKH yang tengah curhat masalahnya ke aku.
Andaikan pemerintah menuliskan kriteria calon penerima PKH mungkin tak ada lagi nyinyir disana sini.
Namun, hidup tanpa nyinyiran tetangga rasanya kurang manis.
PKH atau Program Keluarga Harapan adalah program perlindungan sosial melalui pemberian uang non tunai kepada Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM). Mereka yang berhak mendapatkan PKH adalah yang memiliki ibu hamil/nifas/menyusui, dan/atau memiliki anak balita atau anak usia 5-7 tahun yang belum masuk pendidikan SD, dan/atau memiliki anak usia SD dan/atau SMP dan/atau anak usia 15-18 tahun yang belum menyelesaikan pendidikan dasar.
Menarik sekali ketika membahas kata miskin. Seharusnya pemerintah menuliskan kriteria miskin yang harus menerima bantuan PKH ini.
Kenapa?
Akhir-akhir ini, salah satu penerima bantuan PKH curhat ke aku. Kebetulan beliau terbilang mampu jika kita hanya melihat dari bentuk rumahnya. Rumah yang sudah mentereng tegak beralaskan keramik. Namun jika kita melihat kedalam, luar biasa maa syaa Allah. Ternyata rumah yang kini berdiri kokoh, hasil dari iuran anak-anaknya, sawah tak punya, ladang tak punya, hanya sepetak rumah yang ia miliki.
Kemudian, ada beberapa tetangganya yang kini tengah berebut menginginkan bantuan PKH ini jika ada kesempatan. Mereka mengaku perlu menerima bantuan ini, karena menurut mereka, merekalah yang berhak menerima bantuan tersebut.
"Rumahku lo masih jelek, kok aku enggak dapat bantuan". Ucap mereka.
Iya, rumah yang dihuni mereka memang belum bagus jika dilihat dari kacamata orang yang tidak bersyukur. Kenapa kubilang tidak bersyukur? Mereka memiliki segalanya, sawah mereka punya, ladang karet mereka punya, tempat tinggal yang layak juga mereka punya.
Siapa sih yang mau miskin? Pasti tak ada yang mau. Begitu juga Ibu penerima PKH yang tengah curhat masalahnya ke aku.
Andaikan pemerintah menuliskan kriteria calon penerima PKH mungkin tak ada lagi nyinyir disana sini.
Namun, hidup tanpa nyinyiran tetangga rasanya kurang manis.
Wednesday, 25 September 2019
Akhirnya Mereka Suka
Lagi-lagi aku diberi amanah untuk
menjadi wali kelas 6. Diawal setiap pembukaan belajar
matematika, seperti biasa aku selalu bertanya.
“Siapa saja yang tidak suka
dengan matematika di kelas ini? Tolong angkat tangan!”. Tanyaku.
Selalu saja yang menjadi pusat perhatianku mata pelajaran matematika, kenapa tidak, karena setiap kali UASBN yang dikhawatirkan para wali murid maupun guru ya nilai MTK nya.
Sontak mataku terbelalak, karena
setelah tangan diangkat, begitu banyak tangan bergentayangan. Benar saja, dari
32 siswaku ada 25 siswa yang tidak suka matematika. PR besar bagiku, karena aku
harus mempersiapkan mereka menuju ujian.
Aku teringat dengan salah seorang
motivator.
“Buat pelajaran kita salah satu
pelajaran yang menyenangkan, agar siswa
membuka hati, membuka pikiran
(open minset bahasa kerennya) sehingga siswa kita akan merasa pelajaran
kita sangatlah mudah”
Pertanyaan demi pertanyaan kulontarkan.
“Maa syaa Allah, kenapa matematika
tidak disukai?” tanyaku.
“Dari dulu remedi terus!”
“males bu!
“Matematika pelajaran sulit bu”
Dan masih banyak lagi teriakan
mereka.
Otakku mulai melayang, harus
kumulai dari mana untuk menjejeli mereka pelajaran kelas 6.
Aku mulai membentuk
mereka menjadi 6 kelompok secara acak. Kemudian masing-masing kelompok memilih
nama kelompok beserta ketua kelompoknya. Tak lupa kuminta mereka membuat
yel-yel kelompok. Masing-masing
kelompok diminta untuk membawa kertas spectra, dimana kertas tersebut digunakan
untuk menempel bintang bagi siswa atau kelompok yang mendapatkan reward karena
tenang, ibadahnya rajin, diskusinya menarik, jawaban tepat, tidak mengganggu
temannya saat belajar dan masih banyak yang lainnya.
Suatu hari, aku sengaja memberikan soal
matematika yang begitu mudah, agar sebagian besar dari mereka mendapat nilai
100. Aku yakin, patokan mereka adalah nilai. Kuminta kepada mereka untuk
berdiskusi dalam mengerjakannya. Benar saja, saat buku mereka kembali dengan
nilai 100 semua, mereka merasa bahagia. Alhamdulillah.
Diwaktu yang lain, aku memberikan soal
yang mudah lagi agar mereka mulai suka dengan matematika. Alhamdulillah, apa
yang aku pikirkan benar. Sms dan watshap dari orang tua wali murid mulai
berdatangan. Mereka berkata, anaknya mulai suka dengan matematika, ada yang
bilang belajar denganku asyik, pun ada yang bilang andai semua pelajaran aku
yang mengampu. Ah, kalimat begituan membuatku ingin terbang melayang. (sabar
eka, ini ujian). Lamunanku kuhentikan, aku mulai tersadar.
“Ah, asyik karna itu fasion ku.
Coba aku mengampu pelajaran IPS, pasti garing”.
Pada hari Senin, setelah aku
memberikan materi matematika. Aku menantang siswaku.
“Bu guru tantang kalian, bagi 2
orang pertama yang berani menghadap bapak kepala sekolah dan meminta soal
matematika materi ini kemudian dia bisa menyelesaikan di hadapan beliau, Bu
guru beri uang masing-masing 10 ribu”
Aku menyaksikan sesuatu yang lain
di kelasku. Kenapa?
Karena, wajah mereka menunjukkan
wajah siap. Sumringah, pertanda meng iyakan tantanganku.
Setelah sholat dzuhur berjamaah,
kakiku melangkah ke kantor untuk mengambil secarik kertas penting. Tapi,
sesampainya di kantor aku terkejut dengan dua siswaku yang sedang duduk dengan bapak
kepala sekolah.
“Mas Nabel, mas Abim, apa yang
kalian lakukan di sini?
“Menjawab tantangan bu eka” jawab
mereka
Aku kaget, sekaligus bangga
dengan mereka. Aku biarkan mereka berbincang-bincang dengan kepala sekolah. Aku
tinggalkan mereka berdua di kantor. Ketika kulirik, mereka sudah meninggalkan
ruangan kepala sekolah, aku datangi ruangan beliau.
“Assalamualaikum pak”
“Walaikumussalam wr wb ustadzah”
(yaelah, aku merasa tak pantas
dengan sebutan itu)
“Emmmmmmmmm pak, dua siswa tadi
bisa jawab pertanyaan bapak tidak?”
“Bisa,bisa”
“Terimakasih pak”
Wah, hilang deh uangku, hahahaha.
Aku mulai melangkahkan kaki menuju kelas. Baru saja masuk kelas.
“Bu eka, mana janjinya? Aku
berani menghadap Bapak kepala sekolah dan bisa menjawab pertanyaan beliau” mereka
menagih janjiku.
“Ah yang bener? Bu eka nggak percaya ah”
“Bu eka nih bilang saja gak punya
uang” ledek mereka
“Macam-macam (kuambil dompet dan
kukeluarkan uang dua puluh ribu”
“Bu, boleh tidak ditukar bintang
saja? Kalau duit aku sudah punya banyak bu”.
Wah, padahal kalau duit kan bisa
untuk apa saja. Sedangkan bintang hanya secarik kertas bergambar bintang.
Untung nih aku, ah pikiran jahatku kubuang, aku harus memiliki pendirian
apalagi di depan siswaku.
“Ya tidak boleh to mas, hadiah
uang ya uang, tidak boleh diganti bintang”
“Bu, Bu, bintang saja sih, 10
saja gak papa bintangnya”
“bintangnya tidak diperjual
belikan ya”
Akhirnya mereka menerima
hadiahku. Alhamdulillah kini di kelasku sebagian besar sudah menyukai pelajaran
matematika. Semoga seterusnya akan menyukai matematika.
Subscribe to:
Posts (Atom)
RASUL PENYANYANG (By Afif)
Sumber : Muhammad Teladanku (Tugas menceritakan kembali isi bacaan teks non fiksi) T eman-teman Rasulullah S.A.W sangat tidak menyukai ...
-
"Mana sepatumu Andi?" Tanya Ibunya saat ia dijemput sepulang sekolah. "Hilang, bu". Jawab Andi sekenanya. Mata Ibu A...
-
Beberapa tahun terakhir pemerintah mengadakan program PKH. PKH atau Program Keluarga Harapan adalah program perlindungan sosial melalui p...